my secret brother chap 3

Hai readers!! Balik lagi dengan admin setengah. Gimana ff pertama saya yang sebelumnya?
A.sangat bagus
B.bagus
C.jelek
D.jelek banget
(silakan di jawab di comment ya ;))

untuk yang ff ini saya udah buat ceritanya menjadi sedikit(dikit banget) panjang. Namun,teman saya yang membaca masih saja di bilang pendek. Thanks buat yang udh kasih masukan.
Enjoy reading and please comment it 😉
.
.
.
“Ne,Jung DaeHyun ibnida. Senang berkenalan denganmu.” Pria yang bernama Jung DaeHyun pun membungkukan badannya.

“MWO?!”

Seperti terkena serangan petir, HyunRa pun mengeluarkan ekspresi shocknya yang sudah pasti sangat JELEK seperti yang dikatakan Cheonsa.

“Kakakku?”HyunRa mengulangi perkataan ayahnya.

“Begini ceritanya, aku mengadopsi anak dari teman ayah yang sudah meninggal karena kecelakaan. Di dalam mobil itu terdapat istri dan teman ayah.” Ucap appa YoungJae dengan sabar.

“Nah sekarang, kamu akan tinggal disini bersama HyunRa,Daehyun. Anggap saja seperti rumah sendiri.” Appa berbicara dengan DaeHyun dan tidak memperdulikan HyunRa yang masih melongo.

“Ta..tapi appa..” Sebelum HyunRa selesai berbicara, Youngjae dan DaeHyun sudah berdiri dari tempat duduk dan berjalan sambil menunjukan kamar untuk DaeHyun.
.
.
.
Kamar yang dipilihkan Youngjae adalah kamar di sebelah HyunRa. Kamar itu termasuk besar dan bisa memuat 10 orang tidur di dalamnya. Kamar itu juga berlapiskan wallpaper putih krem yang lembut di temani dengan kasur berukuran queen,lemari baju,serta perabot lainnya.

“Ini kamar untuk mu.”

“Ne, terima kasih ahjussi.” DaeHyun membungkukan badannya.

“Tidak apa-apa.”

Drrt…drrt…drrt

Ternyata handphone Youngjae yang bergetar . Ia pun segera mengangkatnya.

“Yeoboseyo? Ah ne. Saya akan segera ke sana. Ne.” Youngjae mengakhiri pembicaraan dalam teleponnya.

“Dae-ah maaf aku tidak bisa berlama-lama. Aku masih harus kembali ke kantor. Tolong jaga HyunRa baik-baik. Ia anak yang cukup menyenangkan.” Mereka pun berjalan turun.
.
.
.
Ketika sudah sampai di lantai bawah. Mereka melihat HyunRa yang masih terkejut dengan mulut terbuka.

“Ra-ya appa pergi dulu ya. Kau dan DaeHyun rukun-rukun ya . Arraseo?” Appa Youngjae menyadarkan HyunRa.

Seketika itu juga roh HyunRa kembali. Dan melihat apanya dengan tatapan kecewa.

“Appa mau pergi lagi? Tidak mau makan malam di sini dulu?” Tanya HyunRa pelan.

“Tidak bisa Ra-ya. 10 menit lagi aku akan ada meeting dengan klien. Nanti aku akan makan di kantin. Tidak usah kuatirkan kesehatan appa.” Appa YoungJae tersenyum menenangkan.

Tetapi bukan itu yang HyunRa maksud. Yang ia inginkan adalah makan bersama appa nya yang jarang sekali pulang. Ia sangat merindukan appanya itu. Namun mau bagaimana lagi. Dengan berat hati ia anggukan kepalanya pelan.

“Arraseo appa. Jaga kesehatan ya ” HyunRa mengulaskan sebuah senyum tipis.

Setelah itu appa mengendarai mobilnya dan setelah itu menghilang di ujung jalan.
.
.
.
Sunyi. Itulah yang dapat digambar kan sekarang. Di dalam rumah HyunRa sekarang hanya tinggal ia dengan DaeHyun yang terduduk diam di sofa. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri sampai ada suara…

KRUYUK…

Suara itu menyadarkan pikiran mereka berdua. Satu nya sedang mencari darimana asal suara itu. Dan yang satu lagi sedang tersipu malu.

Ternyata DaeHyun yang membuat suara itu. Lebih tepatnya perut nya sedang menagih pasokan makanan.

“Phuahahaha” HyunRa dan DaeHyun pun hanya bisa tertawa bersama-sama.

“Akan aku masakan sesuatu. Ehmm o..oppa bisa mandi dulu.” HyunRa yang masih belum terbiasa pun segera berdiri dan meninggalkan ruang tamu.
.
.
.
Selesai masak, HyunRa pun segera masuk ke kamar untuk mandi. Setelah mandi, ia turun lagi kebawah. Di lihatnya DaeHyun sedang duduk di kursi meja makan sambil memainkan Smartphonenya. Dilihat dari samping, oppa baru HyunRa itu sangat tampan. Apalagi dengan balutan kaus longgar dan celana selutut.

HyunRa pun berjalan dengan kikuk ke meja makan.

Mereka pun mulai makan dalam keheningan. Hanya ada ketukan sendok pada mangkuk yang membuat suara.

“Boleh aku memanggil mu yeodongsaeng?” Sebuah suara memecahkan kecanggungan itu. HyunRa yang sedang makan mu tersedak karena suara tiba-tiba itu.

“Nde?” tanya HyunRa meminta Daehyun mengulangi pertanyaannya.

“Bolehkah aku memanggilmu yeodingsaeng. Habisnya kita akan menjadi saudara angkat. Jadi sebaiknya aku memanggilmu yeodongsaeng. Ah apa lebih simplenya dongsaeng? Bolehkan?” Tanya Daehyun dengan panjang lebar sambil menyungingkan senyum yang menambah ketampanannya.

Ternyata Daehyun orangnya enak di ajak bicara. Ia juga cepat beradaptasi dengan orang baru. Hyunra merasa nyaman karena tidak canggung lagi.

Hyunra pun membalasnya dengan senyum tulusnya.

“Ne. Aku boleh memanggilmu oppa kan?”

“Tentu saja boleh. Dongsaeng hahaha.” Oppa barunya sedang tertawa. Lucu sekali.

Mereka pun melanjutkan makannya dengan berbagai pembicaraan.
.
.
.
Di lain tempat, L.joe sedang berjalan pulang kerumah barunya. Di ujung jalan itu. Terdapat sebuah rumah lumayan besar dengan pagar berwarna coklat tua klasik. Di tambah beragam bunga-bunga di taman membuat rumah itu semakin terlihat mewah. Ya itulah rumah baru L.joe.

L.joe pun berjalan memasuki rumahnya itu.

“I’m home.” L.joe sambil menutup pintu. Tercium aroma kue dari dapur.

L.joe pun berjalan ke arah dapur dan mendapati ibunya sedang mengeluarkan kue-kue dari oven. L.joe pun segera membantunya menaruh panggangan ke atas meja.

“Terima kasih” ibunya tersenyum.

“Sama-sama ibu.”

“Kau pasti lapar. Di meja makan sudah ku sediakan bibimbap kesukaanmu. Makan saja duluan. ” Ucap ibu sambil menata kue-kue nya di dalam toples.

“Okay.” L.joe pun berjalan ke luar dapur dan berjalan ke ruang makan. memang L.joe sudah sangat lapar dan perutnya sudah menagih masuknya makanan. Ia pun makan dengan lahap dan selesai dengan piring mengkilap.

Setelah itu, L.joe naik ke lantai dua dan masuk ke kamar. Setelah berganti pakaian, ia berjalan ke meja belajarnya kemudian mengambil buku year book nya dan membuka-buka. Banyak kenangan yang ia punya bersama teman-temannya yang ada di Amerika. Baru beberapa hari saja pindah ke Korea, ia sudah merindukan teman-temannya itu.

Setelah itu ia menutup bukunya dan berjalan ke tempat tidur. Ia membaringkan badannya di kasur yang empuk dan menatap langit.

Jung HyunRa.

Gadis itu adalah orang pertama yang hari ini berbicara dengannya. Sepertinya ia berteman baik dengan teman belakangnya.

Mengingat itu, L.joe pun tersenyum tipis sambil menutupkan matanya. Lalu tertidur.

Something about you chap 14

​Cast: jeon wonwoo, lau(OC), kim mingyu, and 11 member seventeen

Genre: comedy romance

Rate: 16 + (lawan aja, gpp kok)

.

.

NB: TYPO BERTEBARAN!! 

.

.

.
“WUOH!” teriak Seungkwan menyadarkan kami semua. 
“nuna selamat ya” dino memelukku singkat. 

“woah, lau kau mendahuluiku” ucap vernon berpura-pura sedih.

” chukkae, lau-ah.” jeonghan menjulurkan tangannya.
“terima kasih semua.” aku membalas mereka dengan senyum yang tulus. Jujur saja aku masih belum bisa memutar otak sekarang. Aku tidak bisa mengingat kejadian apa yang terjadi hari ini. Dan sekarang ini. 
Aku melihat kearah Wonwoo yang sekarang dipeluk oleh S. Coups dan Joshua. Mereka juga mengucapkan selama ke Wonwoo. Lalu aku mengalihkan pandanganku ke satu sudut dan kulihat Mingyu yang terdiam sambil tersenyum kecut menatap Wonwoo. 
Aku meneguk ludah dan berjalan menghampirinya. “oppa, bisa bicara sebentar?” tanyaku pelan.
Ia menatapku sendu kemudian mengangguk pelan. Ia berjalan keluar ruangan dan aku pun mengikutinya. Kami pun bersender di dinding tempat yang sangat familiar. Menurutku. Aku ingat latar belakang inj digunakan untuk Andromeda Tv . 
“oppa… Mianhae…” ucapku setelah kami berdiam selama beberapa menit di sini.
Ia tidak menjawab dan malag menundukan kepalanya. Aku menoleh kearahnya dan kulihat tangannya terkepal keras. 
“oppa pasti bisa mendapatkan yang lebih baik darik-” 
“darimu? Lebih special darimu? Lebih cantik darimu? Lebih unik darimu?” tanyanya sambil menatapku. Ia berjalan dan berdiri di hadapanku. Tangannya menempel pada dinding di sebelahku. 
Aku tidak menjawab pertanyaannya. Karena aku takut padanya. Kaki ku mulai bergetar dan rasanya aku akan merosot tak lama lagi. Aku mengalihkan pandanganku darinya.
“tidak ada,Lau. Tidak ada. Kau terlalu berbeda dari setiap gadis yang kutemui. Juga selama hidupku.” ia menatapku dengan tatapan sendu. Aku berani bertaruh dengan semua orang sekarang aku melihat setetes air jatuh kelantai. Dan itu bukan dariku. Aku menatap Mingyu dan kulihat ada air mata di wajahnya.
“Maafkan aku, oppa…maafkan aku…” aku menunduk lagi dan menutupi mataku yang juga ikutan berkaca-kaca.
“wae?? Kenapa? Kenapa kau harus muncul di kehidupanku? Kenapa kau dapat membuatku menyukaimu? Tidak… Kenapa kau harus muncul kehidupan KAMI?!!” teriakan Mingyu membuatku menatapnya lagi.
“jadi oppa… Ah tidak Mingyu-ssi, jadi anda menganggapku pengganggu kehidupan kalian? Kalau begitu maafkanlah aku. Aku juga tidak ingin hidup seperti ini. Aku juga tidak tahu kenapa aku sangat beruntung bisa berkenala dengan kalian dan bahkan bisa bermain dengan kalian. Aku sangat bahagia berkenalan dengan kalian dan tidak kusangka ternyata cuma aku sendiri yang bahagia sedangkan semuanya menganggapku sebagai pengganggu? Baiklah, jika itu kemauan kalian aku tidak akan muncul dihadapan kalian lagi…” aku tidak percaya jika aku pengganggu kehidupan mereka. Yang kutahu mereka juga senang berkenalan denganku. Astaga… Apakah ini yang dinamakan ‘artis bermuka dua?’ baik di depan fans tapi mengata-ngatainya di belakang. 
Kulihat mingyu berdiri mematung dihadapanku dan kulihat member-member lain juga mendengar apa yang kuucapkan. Mereka terdiam menatapku. 
Aku menatap mereka, “oppa-deul, maafkan aku yang telah mengganggu kalian selama ini. Mungkin aku seorang sasaeng fans karena bisa makan dan bersenang-senang bersama kalian dan…. Mengganggu kalian….maafkan aku…” aku menumpahkan airmataku di depan mereka. Dan dengan cepat kuhapus lagi dan melanjutkan kalimat kalimat yang masih mengganggu di otakku.
“dan… Aku berjanji tidak akan muncul dihadapam kalian lagi dan aku akan terus mendukung kalian dari belakang…sebagai fans…” kuselesaikan ucapanku dan kemudian menatap Mingyu lagi.
“Mingyu-ssi, maafkan aku karena tidak bisa menerima perasaanmu. Dan itu adalah pilihan terbaik. Karena tidak seharusnya seorang fans berpacaran dengan idolnya.” aku menatap Wonwoo yang juga menatapku. 
Aku menggeser tangan Mingyu dan berlari keluar gedung tersebut. Aku beruntung karena tidak ada wartawan sama sekali di gedung bagian belakang pledis. 

.

.

.

Wonwoo pov
Aku marah dan juga kecewa dengan Mingyu. Namun aku tidak bisa menyalahinya sepenuhnya. Aku memaklumi jika ia ditolak oleh gadis yang ia sukai. Jika aku menjadi dia, aku mungkin juga akan bertindak bodoh sekarang.
“ya! Mingyu hyung! Sejak kapan aku menganggap Lauren Nuna pengganggu? Memangnya aku pernanh bicara seperti itu?” teriak Dino. 
“dia yang mengajarkanku matematika ketika aku kesulitan, kau tahu hyung.” ucap vernon. 
“dan ia juga penyimpan rahasia yang baik. Aku tidak pernanh bilang dia menggangguku. Dan malah ia sering memberi ide untuk choreo mendatang.” ucap Hoshi.
“cukup, ku mohon supaya kalian kembali latihan sekarang dan tinggalkan mingyu sendori. Kurasa ia butuh merefleksikan pikirannya sekarang.” ucap seungcheol hyung sambil mendorong pelan dino dan seungkwan. 
Tinggal aku sendiri dan mingyu di ruangan ini. Aku berjalan kearahnya. Dan menarik napas dan menghembuskannya.
“maafkan aku Mingyu, tetaoi aku tidak ingin Lau menjadi milik orang lain.” ucapku pelan tetapi mantap. 
Mingyu menatapku dengan bibir bergetar. “hy…hyung… Maafkan aku…apa yang telah kuucapkan…huhu” ia merosot kebawah dan menutup mukanya sambil menangis. Aku inhin menepuk dan merangkul nahunya. Dan menenangkannya. Tetwpi aku tidak bisa. Aku akan tegas terhadapnnya kali ini.
“hyung, apakah ia membenciku? Apakah member yang lain membenciku sekarang??” tanyanya sambil menatapku. 
Aku berjongkok dan mengelus kepalanya. “tidak… Mereka hanya sedikit kecewa dan Lau… Aku yakin ia tidwk membencimu.” 
“a..aku tidak bermaksud seperti itu, hyung…aku-” 
“aku tahu perasaanmu, itu yang kurasakan dulu ketika aku menyukai Tzuyu, mingyu ah.” ucapku kembali mengingat Tzuyu.
“aku bahagis sekarang, mingyu ah. Akhirnya aku bisa menyukai seseorang lagi. Kumohon semoga kau dapat menerima itu.” aku tersenyum tipis menatapnya.
Ia menghapus air mata dipipinya. “maafkan aku hyung. Dan kuharap kau bisa menjaga Lau dengan baik. Semoga kalian berbahagia.” ia memberiku senyum tipisnya.
Baiklah satu masalah sudah selesai.

.

.

.
LAU pov
Hapeku tidak henti-hentinya begetar dari kemarin. Dan kulihat semua member meneleponku kecuali Mingyu. Masa bodo dengan mingyu sekarang, aku melihat dan menghitung bahwa yang paling banyak di daftar telepon adalah wonwoo. Aku tidak ingin berbicara dengannua sekarang. Tifak dengan member seventeen.
“kau tahu, aku merasa meja ini bergetar karena hapemu itu. Dan itu membuat mood makanku hilanh.” ucap Mirae sambil meletakan sumpitnya.
“mianhae, akan kumatikan.” aku mencabut baterei hapeku dan memasukannya kedalam kotak pensil. 
“lalu, bagaimana hubungan kalian berdua?” tanya Mirae sambil berbisik. Ia sudah tahu masalah yang kuhadapi kemarin dan juga hubunganku dengan Wonwoo.
Aku menggeleng oelan dan memakan bekalku dengan lesu. 

“yak, kau tidak mencoba menghubunginya?” tanya Mirae sedikit berteriak.
“aku tidak ingin berbicara dengan nya ataupun member yang lain.” aku menunduk dan melanjutkan makanku. 
“apa kau sudah dengar dari mulut mereka sendiri jika mereka menganggapmu pengganggu?” kata ‘pengganggu’ yang diucapkan Mirae langsung membuat moodku hancur. Padahal aku ingin melupakannya.
“jika aku sudah mendengar suara hati mereka dari satu orang yang berani mengatakannya, kenapa aku harus mendengarkan perkataan mereka semua.” ucapku sambil menatap Mirae tajam. 
“dan kau memprcayai ucapan satu orang yang kemungkinan besar salah??” ia membalasku dengan smirk. Kata-katanya membuatku mematung sebentar.
“tapi…” 
“tapi apa? Lau dengar ya, jutaan fans sangat ingin menelepon idolanya tapi mereka tidak bisa. Dan sekarang, kau memiliki semua nomor mereka dan bahkan mereka meneleponmu. Kau tidak ingin menjawab mereka? Kau bodoh, lau.” ucap Mirae menyuapkan nasi ke mulutnya.
“iya sih…tapi…” 
“lagian aku tidak ingin jika kau bertengkar dengan joshua ku.” ucapnya lagi.
“so thats what you want from me” aku menyipitkan mataku dan dibalas dengan tawa ringan mirae.

.

.

.

Teleponku kembali bernunyi dan itu adalah dari Wonwoo untuk kesekian kalinya. Aku memantapkan diriku dan mengangkatnya.
“yeo…yeoboseyo…” jawabku. 
“astaga… Syukurlah akhirnya kau mengangkat ini. Aku sudah berpikir untuk membanting hape ku karena kupikir hape ku ini rusak karena tidak bisa menghubungimu.” ucapnya panjang lebar. Ku dengar nada lega dari ucapan-ucapannya itu.
“hahaha…” aku membalasnya dengan tertawa kecil. Ah… Aku sangat merindukan suaranya. Suara beratnya.
“aku ingin bertemu dengan mu, Lau.” ucapnya.
“aku tidak mau oppa” jawabku cepat sambil mengigit bibir ku. Aku tidak ingin membuat kenangan lagi bersama nya karena akan sangat sulit untuk menghapusnya.
“baiklah, kau tidak mau, tapi aku mau. Jadi aku yang akan datang ke sana.” ucapnya singkat. 
“oppa mau ke mana?” tanyaku bingung dengam maksud kalimat dia.
“ke dorm mu, kalau kau tidak ada di sana mungkin aku akan mencarimu ke taman dan sekolah. Pokoknya aku akan menemuimu sekarang.” ucapnya tenang.
“apa? Dorm? Ani oppa, jangan ke sana. Hanya perempuan saja yang boleh masuk oppa.” ucapku mencari alasan.
“yasudah aku akan menyamar menjadi perempuan.” jawabnya santai lagi.
Dia gila ya, kenapa ia mengharuskan aku bertemu dengannya.
“jangan oppa. Ah, oppa tidak latihan? Kan konser nya sudah dek-” 
“aku sidah selesai latihan kok.” jawabnya sebelum aku menyelesaikannya.
“baiklah baiklah, ayo kita bertemu, tapi jangan di sekolah atau pun di dormku.” aku menghela napas berat. Jauh dari sisi hatiku terdalam, aku sangat ingin bertemu dengannya. 
“benarkah? Hmmm aku akan menemuimu di taman tempat kita bertemu. Sampaj nanti, jagi.” jawabnya dan langsung memutuskan sambungan.
“jagi ya…” aku sedikit senang dengan panggilan itu.

.

.

.

Wonwoo pov
Dia pasti datang, pasti datang…
Aku bergumam meyakinkan diri sendiri bahwa ia akan datang. Udara dingin membuat bibirku mengering. Aku memasukan tanganku kedalam kantung mantelku.
Kulihat, taman itu kosong. Hanya mrang-orang gila dan bodoh saja yang akan datang dan duduk di sana dalam waktu lama. Dan aku termasuk salah satunya.
Tep tep tep
Suara langkah kaki yang semakin lama semakin kencang membuatku menoleh. Ada perasaan lega di hatiku ketika melihatnya berjalan ke arahku. Ia menggunakan mantel tebal berwarna merah marun sambil menundukan kepalanya.
Ini sudah keberapa kalinya aku mengatainya cantik sejak pertama kali bertemu dengannya. 
“akhirnya kau datang juga, aku me-” ketika aku ingin memeluknya, lau menghindar dariku sambil menatap kesekeliling.
“ani oppa… Jangan menyentuhku… Nanti aku membuat skandal lagi.” ucapnya pelan. Kurasa ia trauma dengan kejadian Mingyu.
“aku merindukanmu.” ucapku singkat. Kurasa hanya kata itu yang kuingat selama aku menunggunya.
“oppa tidak usah merindukanku. Aku seorang sasaeng fans yang mengganggu kalian.” aku tahu perkataannya berbanding terbalik dengan pikirannya.
“sejak kapan aku mengataimu fans?” aku bertanya padanya.
Ia menoleh dengan tatapan tidak percaya, “jadi oppa tidak tahu aku seorang fans? Seorang penggemar berat Seventeen?” tanyanya sambil membulatkan matanya.
“tidak.” aku menggeleng singkat sambil tersenyum.
Ia menghembuskan napas kencang, “heol, jadi selama aku di dorm kalian, oppa tidak mendengarkan aku berkata aku fans kalian?” ia menatapku dengan tajam.
“untuk apa aku menganggapmu sebagai fans? Kau kan sekarang yeojachingu ku. Dan aku selalu ingat dengan detail apa yang kau ucapkan selama kau datang ke dorm kami. Dan mungkin… Aku yang menggemarimu, aku mungkin fans mu.” aku berjalan mendekatinya. Kukihat pipinya memerah dan menatapku.
Aku mendekatkan wajahku dan menempelkan bibirku ke bibirnya.
Iya, aku merindukan bibir ini.

.

.

.

Lau pov
Ciuman wonwoo di tengah salju menghangatkanku. Dan mungkin mencairkan hatiku lagi. Aku seharusnya menolak bibirnya, namun aku tidak bisa. Aku masih terpaku dengan kata-kata yang di ucapkan oleh Wonwoo tadi.
Tangan wonwoo berada di pinggngku dan menarikku sehingga tidak ada jarak lagi di antara aku dengannya. Aku bahkan bisa merasakan detak jantungnya yang juga sama cepatnya denganku.
Ciuman itu berlangsung cukup lama sampai akhirnya kami berdua kehabisan napas. Aku memeluknya dengan erat dan menangis.
“oppa, aku merindukanmu… Sangat…huhuuu” aku terisak di dadanya yang bidang itu.
“aku tahu itu.” ia membalas pelukanku dan mencium dahiku.
“aku bahkan bisa gila jika aku tidak melihatmu oppa….huhuhu” bodoh kau Lauren, untuk apa kau mengatakan kata hatimu itu. 
“ne… Aku tahu itu.” ia mengeratkan pelukannya. Ini adalah pelukan ternyaman dan terhangat selama aku di korea.
Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya, aku tahu wajah ku sekarang jelek sekali. Padahal aku berjanji tidak akan menangis pada Mirae.
“oppa tahu dari mana?” aku menatapnya sambi terisak kecil.
“karena aku juga merasakan hal yang sama,Lauren-ah.” ia tersenyum dan menghapus air mataku.
“terimakasih oppa, karena kau ingin menemuiku.” aku memeluknya dengan erat. 

.

.

.

“kurasa kau harus ke dorm ku, Lau.” ucapnya ketika kami duduk sambil menunggu pesanan kopi kami. Untung saja cafe ini baru buka, jadi hanya kami berdua yang ada di sana.
Aku terkejut dan menatapnya tajam, “shireoyo.” jawabku singkat sambil mengalihkan oandanganku ke jendela luar. 
“waeyo?” tanyanya sambil menggenggam tanganku.
“oppa tahu sendiri mereka menganggapku pengganggu tapi kenapa oppa memintaku bertemu dengan mereka?” ucapku kesal. 
“mereka tidak menganggapmu pengganggu, malah mereka berterima kasih padamu.” ucapnya sambil menggelus tanganku.
“sampaikan ke mereka, tidak perlu berterima kasih. Dan jawabanku tetap tidak mau ke sana.” ucapku sambil menyesap Frappucino yang baru datang.
“tetapi, kau benar-benar harus datang sekarang.” ucapnya dengan nada sedikit memaksa.
Aku menatapnya dengan kesal,” kenapa harus sekali sih?”
“karena Dino tidak makan sejak kemarin, dan menunggu juru masak dorm memasak makanan indonesia untuknya.” perkataannya membuatku kaget. Dino tidak makan? Astaga… Karena aku ia tidak makan apapun?
“benarkah itu? Dino tidak makan?” aku bertanya.
Wonwoo mengangguk dan terlihat ada raut sedih di wajahnya.

“ia menolak makanan dari manager dan menolak makan makanan yang di masak Mingyu. Dan sekarang ia tidak memakan apapun. Kalau begini terus, ia bisa sak-” 
“ayo kita pergi, oppa.” ucapku sambil berdiri. Aku menariknya keluar dari cafe itu.
Tunggulah aku, Dino-ah, aku akan memasak untukmu.

.

.

.

@svt dorm
“DINO-AH” teriakku memanggil Dino tepat setelah Wonwoo membukakan pintu. Aku mencarinya dan menemuka Dino sedang menontong bersama Seungkwan dan Vernon.
“Nuna!!” teriak Dino senang, kemudian berjalan menghampiriku dan memelukku.
“Nuna, aku bersumpah demi apapun, aku tidak membencimu dan aku tidak menganggapmu pengganggu. Tolong jangan acuhkan teleponku.” ucap Dino setelah melepas pelukannya.
“mianhae, apa kau udah makan??” tanyaku.
Ia menggeleng dan mengelus perutnya. “aku ingin koki kita yang membuatkan makanan.” ia tersenyum padaku.
“AKHIRNYA KOKI KITA DATANG!!” teriak seungkwan yang membuat member lain keluar kamar dan berkumpul di ruang tamu.
“mianhae semua, aku membuat kalian khawatir. Maafkan aku. Dan maafkan aku yang telah melalaikan tugas.” aku membungkukan badan berkali-kali. 
“ah… Uri lauren kami tidak membencimu, tidak sama sekali. Dan kami sangat bahagia bisa berkenalan denganmu. Kami juga tidak menganggapmu pengganggu. Tolong jangan salah paham kepada kami.” ucap Jeonghan sambil memelukku. Air mataku tumpah di pelukannya.
“terima kasih semua… Maafkan aku.” 
“kau kuhukum, Lauren-ah.” ucap s. Coups. Wajahnya tersenyum smirk.
“ne? Dihukum? Baiklah aku akan menanggunv hukumanku seungcheol oppa.” aku menunduk. 
“kau harus memasak makanan terlezat yang pernah kau coba di Indonesia.” ucapnya sambil memandngku.
Aku menatapnya dengan terkejut,”hanya itu?” tanyaku sekali lagi. Ia mengangguk.
Aku tersenyum mantap dan memandangnya. “aku bahkan akan membuat kalian kaget dengan makanan Indonesia.”
Aku menarik lengan bajuku dan berjalan kedapur. “BAIKLAH, LAUREN MULAI MEMASAK.” ucapku sambil menyemangati diriku.

.

.

.

“ini makanan apa, lau? Kok asam? Tapi enak…” tanya DK yang menyuapkan kuah sayur asam kemulutnya berkali-kali.
Aku tersenyum menatapnya, “itu namanya sayur asam.” ucapku bangga.
“sa apa?” tanya Jun. 
“sayur asamm.” ucapku melafalkan. Aku tidak tahu bahasa korea dari sayur asam, jadi aku mengucapkan saja ke bahasa indonesia.
“lalu yang ini namanya apa?” tanya woozi sambil menunjukan makanan di depannya.
“oh, itu namanya ikan asam manis, aku tidak tahu nama makanan itu dalam bahasa korea, mianhae.” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
“sepertinya diet ku akan gagal jika kau bekerja di sini, lau.” ucap Seungkwan sambil memasukan makanan lagi ke mulutnya.
“tenang saja, dietku selalu gagal juga kok.” aku tertawa kecil.
“Mingyu belum makan ya?” tanya Jeonghan dengan wajah khawatir. 
Aku menoleh piring dan sup yang masih belum disentuh di pojok meja. Aku baru sadar dari tadi aku tidak bertemu dengannya.
“Mingyu op-… Ssi memang belum makan?” tanyaku pelan.
“dia juga tidak makan sedari kemarin, noona.” ucap Dino yang sedang meminum sup sayur asamnya.
“biar kupanggilkan.” ucap Wonwoo berdiri dari sampingku. 
Setelah Wonwoo pergi, aku melanjutkan makananku dalam diam. Berpikir bagaimana jika ia bertemu dengan Mingyu. Jujur saja aku masih sedikit kesal dengannya.
“Lauren-ah….” panggil Joshua yang sedari tadi diam.
Aku menoleh kearahnya,” ne oppa?” tanyaku.
“tolong maafkan Mingyu. Ia merasa bersalah dari kemarin.” ucapnya lembut.
“tapi…” aku menunduk dan memikirkan bagaimana Mingyu berteriak padanya kemarin. Sangat menakutkan.
“please?” ucap Joshua dalam bahasa inggris.
Aku menghela napas dengan berat, “alright, i will forgive him.” lalu melanjutkan makan. Napsu makanku sudah hilang sekarang. Padahal ini makanan favorit ku di Indonesia.
“meski aku payah sekali dalam bahasa inggris, tapi aku tahu intinya kau akan memaafkan Mingyu hyung kan?” ucap Seungkwan sambil menggaruk kepalanya. 

Kami hanya membalasnya dengan menertawainya.
“Lauren-ah….” panggil suara dari belakang. Suara yang membuatku menoleh dengan takut.
“Mi…mingyu-ssi…” ucapku gagap. Entah kenapa aku takut sekali dengannya sekarang.
“Ah, akhirnya kau keluar kamar juga. Ayo makan. Aku tidak ingin memberi twhu Doogi manager kalau ada satu member sakit karena mogok makan.” ucap S. Coups tanpa mengalihkan pandangan dari makanannya.
“ne…”jawabnya pelan lalu duduk dikursi.
Aku mengambilkan nasi untuknya,”se…segini cukup?” tanyaku dengan gagap. Untung tidak ada yang melihat jika tanganku sekarsng gemetar memegang piringnya.
Bahuku dipegang oleh Wonwoo, aku menoleh padanya. Ia membalasku dengan senyum dan kemudian memegang piring yang kupegang. Kemudian ia mengambilkan nasi untuk mingyu.
“ini.” ia meletakan piringnya didepan mingyu lalu duduk melanjutkan makan. Ia melihat ke arahku dan menepuk tempat duduk di sebalahnya.
Aku pun duduk berhadapan dengan Mingyu. Sekarang aku bahkan tidak sanggup memegang sendokku dengan benar tanpa gemetaran. 
“lau-ah, ah~” ucap Wonwoo memintaku membuka mulut, kemudian ia memasukan sepotong Ikan kedalam mulutku. Aku tertunduk malu kemudian memukulnya pelan.
“er… Tolong di perhatikan, di sini ada 12 namja yang single dan sangat sensitif dengan hal seperti itu.” ucap Hoshi. Wonwoo hanya tertawa mendengarnya.
Aku melihat Mingyu sekilas, dan ia sedang melihatku, aku langsung alihkan mataku ke Wonwoo.
“oppa mianhae, aku tahu kau tidak bisa memakan ikan. Mau kubuatkan makanan lain?” tanyaku dengan gugup.
Ia membalasku dengan senyun hangatnya, “tidak perlu, mungkin aku ingin minta tambah sup ini.” ia memberiku mangkuk kosongnya.
“sayang sekali Hyung, aku sudah menghabiskannya.” ucap Dino sambil membereskan piring dan mangkuknya.
“aish kau ini, makanya jangan mogok makan.” jitak Woozi.
“sakit hyung, ah, aku kenyang sekali sekarang.” Dino mengelus perutnya yang membesar.
Aku menoleh ke arah Wonwoo, “oppa mau sup ku? Aku baru makan dua sendok kok.”

Aku memberikam supku ke Wonwoo.
“gomawo, ah buka mulutmu lagi.” ia ingin menyuapiku lagi.
“ah oppa aku bisa sen-” ucapanku terputus ketika Wonwoo berbisik ke arahku.
“aku tahu kau takut sekarang.” aku terdiam mendengarnya. Aku oun menerima suapannya.
Aku memegang pergelangan tangannya dan menatapnya dalam-dalam. 
“gomawo oppa.”

.

.

.

Setelah makan, kami bermain mafia game, karena aku yang mati duluan aku hanya bisa menggigit jari karena greget sekali ingin memberitahu siapa mafianya. Mafianya adalag Hoshi dan Woozi.
Aku sadar sedari tadi ada mata yang melihatku dari samping, tak lain adalah Mingyu. Ia tidak ikut bermain dengan kami. Aku pura-pura tidak mempedulikannya dan menaruhkan kepalaku pada punggung Wonwoo.
Ketika Hoshi sudah dituduh, ia pun berusaha membela diri. Pembelaan dirinya membuat kami tertawa termasuk aku.
“Lau…” ada sebuah tangan yang memegang pundakku. Aku pun duduk dengan tegak dan membalikan badanku dengan pelan. Kulihat Mingyi berdiri di depanku. Astaga badannya besar sekali.
“bisa bicara sebentar?” ia menggarukan kepalanya.
“n…ne…” ucapku tergagap. Untuk apa sih ia ingin berbicara denganku?
Mingyu pergi duluan menuju dapur. Aku memgang tangan Wonwoo dengan gemetar. “oppa, aku takut.” 
Ia memegang mukaku dan tersenyum. “tenang saja, aku akan mendengarkan kalian berdua dari jauh.” ucap Wonwoo yang kubalas dengan senyun dan anggukan kecil.
Aku berdiri dan pergi menuju dapur. Kulihat Mingyu sedang meminum air. Ketika ia melihatku, ia meletakan gelasnya di wastafel.
Kami berdua terdiam sejenak. Kaki ku daritadi sudah gemetaran berhadapan dengannya dan sekarang kita belum memulai perbincangan apapun.
“mianhae…” ucap Mingyu pelan.

“nde?” tanyaku karena tidak mendengar apa yang ia ucapkan.
“maafkan aku, maafkan aku karena sikapku dan ucapanku. Dan tolong jangan takut lagi padaku lauren-ah…” ia menatapku sendu. Aku kaget bagaiman ia tahu jika aku takut dengannya sekarang.
“apakah kau benar-benar menganggapku pengganggu hidupmu?” tanyaku dengan mengeluarkan keberanianku.
Ia menggeleng dengan keras, “tidak lau, kau tidak mengganggu sama sekali, kemarin aku tidak tahu aku berbicara apa karena pikiranku shyock saat tau kau dengan Wonwoo hyung pacaran….” ia menunduk. 
“baiklah aku memaafkanmu Mingyu-ssi.” ucapku sambil tersenyun tipis. Aku tidak bisa membenciny karena ia juga idol favoritku dan aku juga tidak ingin menjadi Carat yang jahat.
“jinjja??” tanyanya sambil membulatkan matanya.
Aku mengangguk pelan, “ne mingyu-ssi.” 
“bisakah kau mengganti namaku lagi?” tanyanya sambil menggaruk kepalanya.
“menjadi oppa? Baiklah mingyu oppa.” ucapku sambil tersenyum. Aku harus membuang rasa takutku sekarang.
“dan… Bolehkah aku memelukmu?” tanyanya yang membuatku terdiam sejenak.
“apakah ini cara oppa berbaikan dengan seseorang? Dengan memeluknya?” ucapku sambil tertawa kecil.
“yah..bisa dibilang begitu.” ucapnya tidak yakin.
“baiklah oppa.” aku mengiyakan permintaannya. Aku diam saja tanpa membalas pelukannya.
Pelukannya ternyata cukup lama dari yang apa kubayangkan. Aku mulai merasa tidak nyaman kembali.
“err oppa, kupikir ini sudah cukup.” aku mendorong dadanya pelan. Tetapi ia malah semakin mengeratkan pelukannya.
“ah… Lauren-ah, kenapa kau membuatku menjadi semakin menyukaimu? Tapi-” aku mendorong dadanya sehingga ia terjungkal ke belakang.
“mari menjadi teman, oppa.” kemudian aku berbalik dan berjalan keluar dapur. 
Ketika aku keluar, aku melihat Wonwoo bersender di tembok dapur. Dan itu artinya ia melihat kejadian tadi.
“wonwoo oppa…” 
Ia menoleh kearahku dengan tajam, kemudian menarik tanganku. Aku hanya mengikutinya.
Ia menarikku masuk kesebuah kamar, dan kurasa ini kamar Hip hop team karena aku melihat jaket merah Vernon ketika ia tampil.
Wonwoo mengunci pintu kamar tersebut dan mendorongku ke tembok. Kedua tanganku dipegang dengan erat. Dan kemudian ia menciumku dengan kasar. Dan aku bisa merasakan sedikit darah dimulutku.
Air mataku terus keluar dengan deras. Aku berusaha melepaskan tanganku dsri wonwoo. Tetapi tanganku dipegang erat oleh Wonwoo.
Aku sudah kehabisan napas sekarang dsn butuh oksigen sekarang. Tubuhku sudah sangat lemas sekarang. Aku tidak memberontak lagi dsn hanya terdiam menerima ciumannya.
Wonwoo menghentikan aksinya dan memelukku dengan erat. “mianhae, lau. Tetspi melihatmu dipeluk oleh namja lain membustku sangat….sangat marah.” 
Aku hanya diam dipelukannya, air mataku terus keluar dengan deras. Akhirnya aku bisa bernaoas kembali. Dan kesadaranku perlahan muncul.
Aku membalas pelukan nya, aku tahu dan paham sekali perasaanya. Aku tahu ia sangat cemburu dan aku akan merasakan hal yang sama jika aku berada di posisinya sekarang.
“mianhae oppa..” aku membalas pelukannya dengan erat.
“padahal aku yang ingin kalian berbaikan, tetapi kenapa sekarang aku ingin kalian saling berjauhan. Hyung macam apa aku ini.” wonwoo menunduk dan menyembunyikan wajahnya di bahuku.
“kenapa mingyu oppa tidak bisa menerima hubungan kita?” tanyaku pada wonwoo.
“karena ia juga menyukaimu, sangat menyukaimu.” ucapnya pelan tanpa mengangkat kepalanya.
Tok tok tok
Ketukan pintu membuat tangisku berhenti.
“Lau, kau baik-baik saJa? Aku mendengar ada yang menangis di dalam.” tanya Jeonghan.
“aku baik-baik saja oppa.” ucapku dengan suara serak. Jelek sekali bohongmu, lau. 
“baiklah. Mungkin aku yang salah dengar.” ucapnya dan sepertinya ia berjalan pergi.
“oppa, sepertinya kita harus keluar.” ucapku pada Wonwoo.
“aku ingin seperti ini sebentar lagi.” ucapnya sambil mengeratkan oelukan dipinggangku. Aku terdiam dan memainkan rambutnya.
“kau tahu, jagi? Aku suka kau memainkan rambutku seperti sekarang.” ucapnya sambil mengangkat kepalanya. Kulihat ada senyum di wajahnua. Untunglah ia sudah tidak marah lagi.
“ayo keluar.” ie menarik tanganku pelan dan mengelus pergelangan tanganku yang memerah karenanya.
“kita harus mengompres ini.” ucapnya sambil melihat tanganku.
Aku mengangguk dan terduduk di sofa. Sementars Wonwoo pergi ke dapur untuk mengambil es. Sekarang aku disini sambil melihat dino yang sedang bermain bersama seungkwan dan vernon. Aku sangat menyukai verkwan couple. Dan aku bangga sekali bisa seumuran dengan mereka.
Mereka melihat kearahku dan berjalan kearahku. Kemudian duduk di sofa juga.
“kau menangis ya?” tanya Seungkwan. Sambil menyikirkan anak rambut yang menutupi wajahku.
Aku menggeleng cepat, “tidak, tadi aku kemasukan debu jadi mataku berair mulu.” ucapku sambil menghapus air msta keringku.
“kukira kau menangis, gadis tidak seharusnya menangis.” ucap vernon yang menatapku.
“memangnya kenapa?” tanyaku pelan.
“karena gadis kalau menangis itu jelek.” jawabnya singkat sambil duduk dilantai, di bawah seungkwan.
“jadi kau mengataiju jelek? Cih padahal kau juga mengataiku cantik ketika pertama kali bertemu.” ucapku pura-pura sakit hati.
“kalau kasusmu itu berbeda. Kau tetap cantik dalam keadaan apapun. Gadis sehsrusnya bahagia, bukannua bersedih.” ucapnya sambil memberikanku senyum tulus.
“bisa juga kau berkata seperti itu, vernon-ah.” aku tertawa kecil.
“tapi memang benar, gadis tidak boleh dibust menangis, seharusnya namja yang menangis.” ucap Seungkwan sambil menyenderkan badannya ke sofa. 
“noona,kau benar-benar akan datang ke konser kami kan?” tanya Dino yang duduk di sampong vernon.
Aku mengangguk, “tentu saja, aku tidak mungkin menyia-nyiakan tiket gratis.” uvapku sambil mengepalkan tanganku.
“dasar…, apa semua gadis menyukai barang gratisan?” ucap vernon. Aku hanya mengangguk kepala dengan kerss.
“kok jadi ramai di sini??” tanya Wonwoo yang kembali dengan bsskom berisi air es. Seungkwan segera menyingkir dan ikut duduk di sebelah Vernon.
“tanganmu.” ucap wonwoo yang menyuruhku menarik lengan bajuku.
“woah, ini kenapa lau?” tanya seungkwan ketika melihat bekas merah di pergelangan tanganku.
“ah…ini…” aku tidak tshu harus memberi pernyataan palsu aoalagi karena aku tidak pandai berbohong.
“ini karena aku.” ucap wonwoo tenang dan tidak mempedulikan tatapan tajam vernon, seungkwan, dan dino.
“hyung, kenaoa melukainya?” tanya vernon.
“aku memegang dia terlaly erat.” ucap wonwoo sambil menaruh kain berisi es di stas tanganku.
“maksudku, kenapa kau memegangnya terlalu erat sampai melukainya?” ucap vernon sambil memutarkan matanya.
“karena aku terlalu menyukainya, mungkin.” jawabnya yang langsung membuatku tersenyum malu.
“mwoya, jawaban apa itu. Membuatku merinding.” jawab seungkwan sambil menggosok lengannya.
Mansae mansae mansae yeah
Hapeku berbunyi dan aku kaget ketika melihat nama yang terters di hape ini. Aku langsung mengangkatnya sambil memberikan isyarat diam ke mereka.
“halo.” jawabku.
“woi, lu di mana? Gua lagi di depan dorm lu sekarang, cepet ke sini.” jawab suara yang di seberang.
“yak, siapa yang belum menyuci piringnya?” teriak S. Coups dari dapur. Aku langsung memberikan isyarat diam ke arahnya.
“lu lagi dimana? Kok ada suara cowoknya?” tanya suara di seberang.
“gue…gue lagi kerja sambilan. Bentar lagi balik kok.” jawabku dengan bahasa indonesia. Kulihat wajah seungkwan vernon menatapku aneh.
“oh ya udeh, cepetan ya.” suara di seberang memutuskan hububgannya.
Aku berdiri dan mengambil tas dan mantelku, kemudian memakai sepatuku.
“ya lau, kenapa terburu-buru? Aku belum selesai mengompresmu.” jawab Wonwoo bingung.
“oppa deul, aku pulang dulu ya. Terima kasih untuk hari ini.” teriakku di depan pintu.
“Lauren-ah, sebenarnya siapa yang meneleponmu sih?” tanya Wonwoo yang menahan bahuku.
Aku menelan ludahku dan menjawabnya,
“kakakku.”

.

.

.

Something about you chap 13 

​Cast: jeon wonwoo,  lau(OC), kim mingyu, and 11 member seventeen

Genre: comedy romance

Rate: 16 + (lawan aja,  gpp kok)

.

.

.

Lau pov 
Aku membuka mulutku lebar-lebar ketika melihat artikel tersebut. Ada 2 foto sama besar yang di foto dari kejauhan. Foto pertama memperlihatkanku memuntahi Mingyu Yang kuyakini itu adalah tempat berdirinya orang-orang bermasker dan memakai baju hitam kemarin. 
Foto kedua memperlihatkan aku sedang berada dipelukan Mingyu. Dan dengan bodohnya tanganku terlihat seperti menariknya. Tidak kusangka mingyu bisa dikenali,padahal ia sudah menutup kepalanya sampai wajahnya. 
“caramu jorok sekali ya rupanya.” ucap seorang yeoja di belakangku. Suara yang paling kubenci semenjak aku masuk ke sekolah ini. Suara yang tak lain adalah tzuyu. Gadis pindahan dari negeri china yang juga melalui pertukaran pelajar. Entah kenapa ketika ia masuk ke sekolah ini, ia sudah menjadi ketua geng penindas dan banyak orang yang patuh padanya. Mungkin karena badan gitarnya dan wajahnya. 
Aku membalikan badanku dan menatapnya dengan tatapan dingin. Aku tidak peduli dengan gelar ‘ketua geng penindasnya ‘ itu. 
“ternyata begitu caramu mendekati idol.” katanya lagi dengan tatapan menghina. 
“lalu?” aku membalasnya singkat dan mengepalkan tanganku. Jujur aku sangat marah sekarang atas semua berita bohong tersebut. Meskipun salah satunya benar. 
Ia memegang bahuku dengan kuat dan berteriak dihadapanku. “YA!! MINGYU ADALAH MILIKKU, DAN KAU,” ia menunjukku, “KAU, GADIS JELEK FREAK TIDAK AKAN SEBANDING DENGANNYA! INGAT ITU!!” ia mendorongku hingga terjatuh dan melengos pergi bersama pengikutnya. 
Aku terduduk dan menatap lantai dengan kosong. Hal bodoh yang harus ku ingat adalah Tzuyu juga menyukai Mingyu. Tzuyu lebih cantik darinya. dan kau, Lauren, kau tidak setara dengan  Mingyu. 
“neo…gwaenchana?” tanya Mirae menghapus bulir-bulir air mataku yang mulai berjatuhan. 
“itu bohong Mirae-ah… Kau percaya padaku kan?” tanyaku pada Mirae. Namun ia hanya diam dan memelukku dalam keheningan. Air mataku tumpah ketika aku berada di pelukannya. 

.

.

.

wonwoo pov
“YAK!! APA INI?!” teriak Doogi manager ketika kami sedang istirahat sebentar. Ia melemparkan koran kehadapan S.coups dan menjawab telepon yang sedari tadi berdering. 
S.coups membaca judul artikel yang terpampang besar di halaman pertama. Matanya melirik kearah Mingyu dan kembali menatap koran. 
“ada apa?”  tanya jeonghan penasaran. Ia menarik koran tersebut dan membacanya. Kemudian terkejut dan terdiam seperti s.coups. 
“ya, kenapa wajah kalian seperti itu ? Memangnya kalian membaca apa sih?” tanya seungkwan dan kemudian menarik koran tersebut dan membacanya. 
“IGE MWOYA?!” ia berteriak membuat semua member kaget, termasuk aku. Entah kenapa aku merasakan perasaan buruk sedari tadi. 
“ya, mingyu hyung, kau… Kenapa….” ucap vernon terbata-bata karena saking terkejut membaca koran di tangan seungkwan. 
“aku? Aku kenapa?” ia menarik koran tersebut dan membacanya, matanya membesar dan bibirnya bergetar. Aku yang berada di sebelahnya juga kaget setelah membacanya. 
“aish… Padahal aku sudah menutup wajahku rapat-rapat. Darimana mereka tahu sih.” mingyu mengacak-acak rambunya yang basah. 
Dan aku, aku hanya terdiam disampingnya. Banyak pikiran berkecamuk di kepalaku sekarang. Ternyata bukan cuma aku yang di muntahi. Mingyu sudah sampai tahap memeluk? Astaga wonwoo, kau lambat sekali dalam mengambil tindakan. Kau sudah benar-benar kalah sekarang. Apa gadis itu sudah mengetahui berita ini? Ini pasti akan menjadi hari yang berat untuknya. Aku harus bersamanya sekarang. Mungkin ini adalaah kesempatanku untuk menyatakannya. 
Aku bangkit dan berlari keluar ruangan dan tidak memedulikan suara teriakan doogi manager di belakang. Yang harus kulakukan adalah menemani Lau  menghadapi hal ini. 

.

.

.

Lau pov 
Bel selesai istirahat berbunyi. Dan itu berarti aku sudah bolos pelajaran lee songsaengnim yanv terkenal killer. Ah, masa bodo dengan itu sekarang. 
Aku memejamkan mataku dan menikmati angin yang melewatiku.  Atap sekolah adalah tempat yang tepat untuk menenangkan diri. 

Aku melihat ke bawah, kulihat banyak wartawan yang sudah menunggu di luar gerbang sekolah. Dan itu artinya, beberapa jam lagi aku akan menghadapi neraka. 
Mansae mansae mansae yeah…
Hapeku berbunyi dan mataku melebar ketika aku membaca nama peneleponnya. 
“yeoboseyo, wonwoo oppa.” aku menjawabnya dengan usaha membuat nada bicaraku seriang mungkin.
“neo, kamu dimana sekarang?” tanya wonwoo,aku mendengar suara berisik dari seberang. 
“aku, ah aku ada di atap sekolah. Aku bolos karena bosan dengan pelajara-” ucapku yamg segera di potong oleh wonwoo.
“baiklah, aku kesana sekarang dan jangan pernah berpikir untuk bunuh diri, ara?” ia memutuskan sambungannya sebelum aku bisa mencerna dengan baik apa yang ia katakan.
Dia datang? DIA DATANG??? 

Aku merapikan rambutku yang berantakan karena angin dan memungut sampah makanan di lantai. Namun,  sampah plastik itu berterbangan karena angin. Ada satu plasrik yang terbang jauh menuju pintu. Aku mengejarnya dan akhirnya aku dapat memungutnya. 
Klek
Suara pintu terbuka dan kulihat wonwoo yang terengah-rengah.  Sepertinya ia habis berlari. Dan jika kulihat dari pakaiannya, sepertinya ia habis latihan dance lagi. 
Ia menarikku kedalam pelukannya, pelukan tiba-tiba ini membuatku kaget sekaligus membuat pikiran-pikiranku tenang seketika. 
“oppa…” 
“mianhae… Ini pasti berat untukmu.”  ucapnya sambil mempererat pelukannya. Entah kenapa pelukannya lebih hangat daripada pelukan Mingyu.  
“ini bukan salah oppa. Ini bukan salah siapa-siapa. ” kataku pelan. 

Ia melepas pelukannya dan memeriksa keadaanku, “lau, kenapa lenganmu merah?” tanya wonwoo tiba-tiba sambil melihat lengan atas bekas cengkraman Tzuyu tadi. Aish, padahal aku ingin menyembunyikannya. 
“ah, ini bukan apa-apa,  hahaha.” aku melapaskan jaket yang ada dipinggangku dan memakainya. 
“apa ada yang menyerangmu tadi?” tanyanya khawatir. Ia menggenggam tanganku. 
“tidak, yah mungkin sedikit didorong.” aku mengecilkan suaraku. 
“mwo?” tanyanya dan aku mengutuki kenapa telinganya sangat tajam. 
“sudahlah oppa. Aku tidak ingin mengingatnya lagi.” aku berjalan menuju tempat duduk ku yang semula. 
“Lau…” tanyanya setelah duduk disampingku. Dan sekarang bahu kami bersentuhan. Aku merutuki jantungku yang tidak bisa berdetak normal sekarang. 
Aku menoleh kepadanya,”wae oppa?” aku tersenyum tipis. 
“berita itu…bohongkan?” tanyanya pelan, pandangannya melihat ke langit yang cukup mendung sekarang.
“itu bohong, oppa, aku bersumpah aku tidak memeluk mingyu oppa. Tapi kalau soal memuntahi, aku benar-benar tidak sengaja karena kemarin ia mengagetkanku. Oppa percaya padaku kan?” aku berkata panjang lebar dan menjelaskan semuanya, aku tidak ingin wonwoo salah paham padaku. Dan berharap ia percaya kepadaku. 
Ia mengangguk pelan dan menatapku lembut, “eo,aku percaya padamu.” lalu hening menyelimuti kami.
“er..oppa, apa kau kenal orang yang bernama Tzuyu?” tanyaku, karena aku penasaran dengan hubungan mingyu dengan tzuyu.
Ia terlihat bingung, “Tzuyu? Hmm… Satu-satunya orang yang bernama Tzuyu yang ku tahu adalah mantan Mingyu. Memangnya kenapa? Apa kau dilukai olehnya?kudengar ia kembali ke korea lagi dan masuk ke sekolah ini .”tanyanya lagi.
“darimana oppa tahu?” tanyaku lagi karena aku yakin sekali tidak memberi tahu siapa nama orang yang mencengkramku tadi. 
“benar ya?” ia membelalak matanya dan menghela napas berat,”Ia pernah tinggal di korea sebentar karena ayahnya dipindahkan ke sini. Ia dulu satu sekolah dengan Mingyu. Tzuyu menyatakan perasaannya ke mingyu dan akhirnya mereka pacaran untuk beberapa minggu. Aku lupa kelanjutannya seperti apa tetapi aku ingat ketika Mingyu mengatakan putus ke Tzuyu karena ia akan debut. Gadis itu mengancamnya dan mengatakan jika ada gadis yang mendekati mingyu selain dirinya, ia akan melukainya.” wonwoo menjelaskannya. Aku menatapnya untuk memintanya melanjutkan ceritanya. 
“aku dan member lain hanya menganggap itu sebagai omong kosong, mingyu juga menganggapnya seperti itu. Namun pikiran itu berubah ketika eomma Mingyu datang ke Dorm kita dan menginap beberapa hari di dorm kami. Ketika eomma mingyu sedang pergi ke minimarket untuk membeli ramyeon. Ia ditabrak lari oleh mobil hitam. Untung saja kepalanya tidak terbentur.” wonwoo memejamkan matanya.
“lalu? Jangan bilang yang menabraknya adalah Tzuyu?” aku menebak kelanjutan ceritanya. 
Ia mengangguk, “eomma mingyu melihat plat nomor mobilnya. Ketika ia memberitahukan kepada kami. Mingyu berteriak bahwa itu adalah plat nomor Tzuyu.” 
“astaga, gila sekali dia..” aku menggumam pelan. 
“Mingyu marah dan pergi ke rumah Tzuyu lalu memintanya untuk tidak mencampuri hidupnya lagi. Jika tidak, ia akan melaporkan polisi atas apa yang gadis itu lakukan.” 
“lalu apakah ia melaporkannya?” tanyaku. 
“sebenarnya Mingyu ingin melaporkan hal itu ke polisi, namun eommanya menahannya. Karena alasan image mingyu  akan rusak jika ada masalah dengan kepolisian. Dan sebentar lagi kami akan debut. Jadi ia tidak jadi melapor.” wonwoo menghela napas berat.  Tangannya terkepal erat sampai aku dapat melihat uratnya. Sekarang Aku mengerti mengapa nama ‘meanie couple’ itu ada. Ternyata wonwoo sangat menyayangi mingyu.
“o…oppa kau kenapa?” tanyaku pelan meski sudah tahu apa penyebab ia marah. 
“aku marah sekarang.”ucapnya singkat.
“karena apa?” tanyaku lagi.
Ia menatapku,”karena kau dilukai olehnya.”  
“eh?” aku tidak begitu yakin dengan apa yang kudengar. Kupikir ia kesal karena mengingat masa lalu. 
“bagaimana ia melukaimu?” tanyanya sambil memegang lenganku yang ditutupi jaket.
“tidak, aku tidak dilukai olehnya.” jawabku menenangkan.

“kau tidak pandai berbohong ya.” ujarnya lalu menarik lengan jaketku ke atas. “ini apa kalau tidak dilukai?” 
“ya sudahlah,oppa. Aku juga tidak memikirkan lagi dan aku memaklumi kalau Tzuyu sangat menyukai Mingyu. Lupakan saja ya oppa” ucapku dengan mengakhirinya denga aegyo yang paling payah yang pernah kubuat.
“kubilang aku  tidak ingin kau memanggilku oppa.” ia mengerucutkan bibirnya yang kuanggap itu adalah ekspresi yang sangat jarang sekali aku lihat di TV. 
“err… Jadi kamu mau kupanggil apa?” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.  
Ia mengambil tanganku dan mengaitkan jarinya ke telapak tanganku. Ia juga mengelus punggung tanganku dengan lembut. Astaga tolong tenangkan hatiku ini ya tuhan. 
“bagaimana dengan jagi?” ia menatapku serius. Tatapannya lurus ke arah mataku. Mata tajam yang kukagumi. Sekarang menatap ku lurus. 
Hening sesaat di sekitar kami. Aku terdiam dan begitupun wonwoo. Yang kutahu sekarang adalah aku sekarang menatap matanya dan yang kedua adalah wajah Wonwoo yang semakin lama semakin dekat. Sampai akhirnya bibirnya menyentuh bibirku dengan lembut. Tempelan bibir yang entah kenapa tidak bisa kuhindari karena tangan kiri wonwoo menekan bagian belakang kepalaku. 
Tuhan… Apakah ini mimpi? Jika ini mimpi, tolong bangunkanlah aku secepatnya sebelum aku menjadi gila merasakan bibirnya. 
Wonwoo melepaskan bibirnya dari bibirku. Dan yang kusadari adalah ada beberapa titik air yang berjatuhan ke bajuku. Wonwoo 

terlihat panik melihatku. 
“kenapa menangis? Maafkan aku karena ini pertama kalinya aku mencium seorang wanita. Mungkin aku tidak sejago dari Mingyu da-” ia mengusap air mataku dan mengelus bibirku. 
“huaaa apa yang kau lakukan huhuhu bagaimana ini… Aku senang sekali Tuhan dengan mimpi ini huhu tolong jangan bangunkan aku tuhan ” aku berteriak kencang dan menangis. 
“Lauren-ah… Aku di sini…nyata…” ia tersenyum dan menempelkan tanganku ke wajahnya. Aku melihatnya dan kemudian menangis kembali.
“huaaa, kenapa kau menciumku??? Aku senang sekali huhuhu bagaimana ini huhu” aku menundukan kepalaku malu dengan ucapanku. 
“haha… Kenapa menangis jika kau senang??”  ia menaikan daguku dan menciumku sekali lagi. “bahkan aku bisa memberimu setiap hari.” ia menatapku hangat. 
“apa maksudmu oppa…” tanyaku sambil menghapus sisa air mataku.  
“jadilah pacarku, lau.” kalimat singkat yang mampu membuatku terdiam seketika. 
“kau tadi memintaku untuk menjadi pacarku ya?” tanyaku untuk memastikan aku tidak tuli tadi. 
“jadi jawabanmu?”  tanyanya lagi. Aku melihat bahwa telinganya sudah merah sekarang. Mungkin karena muka datarnya jadi perasaan malunya tertutupi. 
“oppa, kau tahu,  sekarang kau membuatku menjadi gadis yang paling bahagia hari ini?” 
Ia tersenyum lalu memelukku,”kuanggap itu sebagai iya.” 
“ah” ia melepaskan pelukannya dariku. “apakah kau sudah memberi jawaban ke Mingyu?” tanyanya serius. 
“belum,dari mana kau tahu? Apa mingyu oppa yang mengatakannya padamu?” aku menggeleng pelan. 
“jika kau tidak mengatakan iya sekarang, kau bisa direbut oleh Mingyu. Dan aku tidak mau itu terjadi. Jadi jawabanmu?” tanyanya lagi dengan mata berharap. 
“baiklah, nado saranghae, wonwoo oppa.” aku mencubit kedua pipinya lalu tertawa. 
“gomawo, Lau” ia menaruh kepalanya di bahuku dan memegang tanganku lembut. “kau membuatku sebagai namja paling bahagia sekarang.”

.

.

.

Sekarang sudah menunjukan pukul 5 sore dan itu artinya aku dan teman-temanku seharusnya sudah pulang sedari tadi. Namun sekarang hanya aku dan Wonwoo yang masih di sekolah. Mungkin. Aku tidak tahu karena sedari tadi kami di atap sekolah dan sekarang seorang Jeon Wonwoo yang sekarang menjadi namjachingu ku meletakan kepalanya di bahuku. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk mengatakannya.
“oppa, aku berpikir untuk tidak datang ke konser kalian nanti.” aku mengatakan dengan pelan. 
Ia terbangun dan menatapku dengan bingung. 
“waeyo?” tanyanya. 
“aku berpikir untuk tidak datang ke konser kalian.” ucapku sekali lagi tanpa menatap matanya. “aku rasa jika aku datang ke sana maka reputasi kalian akan hancur karenaku da-” ucapanku di hentikan oleh ciuman lembut Wonwoo yang tiba-tiba. 
“ani, kau harus datang. Aku akan melindungimu dari mereka.” ia meyakinkanku. Matanya menatapku dengan lurus. Jaraku mungkin hanya sesenti dari mukanya sekarang.
Aku menggeleng pelan dan menatapnya, “tidak oppa,aku   tidak ingin datang oppa. Kurasa Mingyu oppa akan mengerti hal itu dan memberikan tiketnya ke orang lain..” 
“mingyu?”tanyanya 
” Ne, dia yang memberikan ku tiket seperti yang di katakan oleh s. Coups oppa ”     
“mingyu yang bilang kalau ia yang memberikanmu tiket?”tanya nya lagi, tetapi entah kenapa nada nya sedikit meninggi dari yang tadi. 
“i..iya oppa… Memang kenapa?” tanyaku sedikit ragu.
Ia menghela napas dan berdiri kemudian bersandar di tembok sebelahku. 
“Lau-ah, kau mau percaya padaku atau tidak, tetapi aku yang meminta seungcheol hyung untuk memberikan tiket vip untukmu.”  kata wonwoo menatap langit. 
“mwoya, jadi oppa yang memberiku tiket? Lalu kenapa ia membohongiku?” tanya ku sambil ikut berdiri menatapnya. Ada perasaan senang menggelitikku ketika mendengarnya.
Ia menatapku dan memegang tanganku, “karena ia juga menyukaimu.” katanya pelan. 
“aku benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikir dia. Kenapa ia menyukaiku? Kenapa ia berbohong kepadaku? Kenapa ia menyukaiku padaku padahal ia membenciku? Kenapa semuanya menjadi seperti ini? Kenapa?” aku mengacak-acak rambutku. Terlalu banyak masalah dan hal yang tidak jelas di sini. Aku ingin kembali ke indonesia rasanya.
“Lau-ah,tatap aku.” ia memegang kedua tanganku dan menurunkannya.
Aku menatapnya dengan mata yang berair. Ia membalasku sambil tersenyum.

“kau ada aku, aku yang akan menyelesaikan. Kau tidak perlu menanggungnya. Sekarang ayo ikut aku.” ia menarik tanganku menuju pintu. 
“oppa, mau kemana?”  tanyaku menahannya.
“ke kantor pledis.” jawabnya singkat.
“lalu ngomong-ngomong, tadi oppa ke sini dengan apa?” tanyaku lagi. 
“lari. Ayo.” ia menarikku pergi dari sana.

.

.

.

@pledis building
Lau pov
Dihadapanku sekarang, berdiri manager, para member,dan boss pledis. Semuanya membuat ruangan yang kududuki tegang.
“nona, apa kau sudah tahu berita tersebut?” tanya manager yang tak lain adalah doogi pd. 
Aku mengangguk kaku. Keringat dingin mulai keluar dari pelipisku.

“lalu apakah kau memeluk Kim mingyu, Lau-ssi?” tanya boss pledis to the point.
“itu tidak benar, sajangnim. Kemarin aku terpeleset ketika ingin menaiki bus. Untungnya mingyu-ssi ada di belakangku. Kalau tidak kepalaku mungkin sudah terbentur aspal.”  ucapku sesopan mungkin. Kulihat ekspresi kaget Mingyu ketika aku membuat pernyataan palsu tersebut.
“lalu apakah kau benar-benar memuntahi Mingyu?” tanyanya lagi.
Aku berdiri dan menunduk 90 derajat.

“kalau itu aku sangat minta maaf. Aku melakukannya dengan tidak sengaja. Kemarin Mingyu-ssi mengagetkanku dan membuat aku tersedak. Maafkan aku..” aku tetap menundukan badanku.

S. Coups oppa memegang punggungku untuk memberi isyarat agar aku mengangkat kepalaku. 
“hmm, baiklah kami akan membuat pernyataan tentang hal tersebut. Dan satu lagi yang ingin kutanyakan, apakah kau dengan mingyu berpacaran?” pertanyaan terakhir sajangnim membuatku berdiri terpaku. Kulihat mingyu dengan mata berharap menantikan jawaban dariku.
Aku menggeleng pelan,”tidak sajangnim kam-” sebelum aku menyelesaikan ucapanku, wonwoo membuka suara.
“aku berpacaran dengan Lauren.” ucapannya membuat seluruh mata diruangan ini menatapnya dengan mata yang melebar. Dino dan seungkwan membuka mulutnya saking kagetnya. Mungkin ekspresiku sama seperti mereka. Aku tidak percaya wonwoo akan mengatakannya. Kukira hubunganku akan backstreet.
“ehem, apakah itu benar lau-ssi?” tanya Doogi pd dengan nada setenang mungkin.
“n..nde..” aku menundukan kepala. Aku pasti akan diminta putus karena aku tahu seventeen tidak boleh berpacaran. 
“hmm, ngomong-ngomong apakah kau bisa masak?” tanya sajangnim yang tiba-tiba berganti topik. Aku tidak mengerti jalan pikirannya. 

“ne, tapi aku lebih bisa memasak makanan indone-” ucapanku dipotong oleh jentikan sajangnim.
“baiklah, kau boleh berpacaran dengan Wonwoo. Tapi dengan 3 syarat.” ia menunjukan 3 jarinya.
“1, tidak boleh ketahuan oleh Massa. 2, jika ketahuan, kalian harus putus. Dan 3, mulai besok kau akan menjadi koki di dorm  seventeen. Aku rasa tubuh kalian tidak akan sehat jika makan makanan ramyeon   setiap hari.” ia menatap para member yang sekarang semuanya melongo terkejut dan termasuk aku.
“eh?” hanya itu yang bisa kukeluarkan.

“baiklah, rapat selesai. Semuanya kembali latihan.” ia berdiri kemudian berjalan keluar. Meninggalkan kami yang masih bengong. 

.

.

Something About you chap 12

images (5)

Cast: jeon wonwoo, lau(OC), kim mingyu, and 11 member seventeen
Genre: comedy romance
Rate: 16 + (lawan aja, gpp kok)

.
.
.
.
Lau pov

Mungkin bisa di katakan aku adalah fans paling beruntung, karena melihat mereka latihan menari, menarikan lagu mereka dan hanya aku sendiri yang melihatnya.

Lagu Mansae sudah berakhir dan semua member berjatuhan karena kelelahan, bayangkan saja, mereka menari non-stop dari jam 3 sampai jam 8 malam.

“oppa-deul, aku belikan minum, tenang saja masih di segel kok.” candaku sambil memberikan coca-cola ke mereka masing- masing.

“wuoh cola!! Ya, Lau bagaimana kau tahu minuman wajib kami?” tanya vernon sambil memegang cola itu seperti bayi berharga.

“ya, kau lupa aku fans kalian?” aku memberikan smirk ke mereka lalu duduk di lantai.

“apa kalian masih harus berlatih lagi?” tanyaku.

“iya, karena konser kami sudah dek…” mulut Hoshi di bekap oleh S.coups. Tapi kata ‘konser sudah terdengar olehku.

“MWO?! KONSER??” aku berteriak antara senang atau tidak. Senang karena mereka bisa konser dan sedihnya adalah aku tidak bisa ikut karena keterbatasan uang.

“ya, kenapa kau bocor sekali.” gerutu S.coups ke Hoshi.

“sudahlah, padahal kami ingin memberi tahumu seminggu sebelum konser. Tapi ya sudahlah.” ucap Woozi.

“mwoya? Kapan konser kalian?” aku bertanya kepada mereka dengan berharap harinya masih jauh jadi aku bisa menyicil nabung.

“desember.” ucap mereka serentak.

Great, bulan desember tinggal 2 minggu lagi dan uang yang ‘akan’ ku tabung tidak akan cukup.

“ahh, cepat sekali. Padahal aku benar-benar ingin datang.” aku menghela napas dan menunduk.

“waeyo? Kenapa terlalu cepat?” tanya Dino yang ikut duduk di depanku.

“iya padahal kami memilih tanggal bagus loh.” ucap Jun.

“aku, tidak sempat menabung.” ucapku pelan. Sangat memalukan jika memberitahu masalah ekonomi kalian di depan idol saat ini.

“eh?” tanya mereka serempak.

Kenapa mereka selalu bertanya bersamaan?

“aku tidak punya uang untuk ke konser kalian.” ucapku sedikit lebih keras.

“haha…HAHAHA” semuanya ketawa dan itu membuatku cengo.

“apa yang lucu? Tadi aku berbicara korea yang salah ya? Maaf ya.” aku menatap mereka.

“Lau-ah, kau lucu sekali ya.” kata s.coups.

“eh? Aku? lucu? Terima kasih.” aku menanggapi ucapan itu dengan candaan.

“ani, kau benar-benar lucu, sejak kapan kami meminta adik kami untuk membayar tiket konser untuk kami?” ucapnya santai.

“eh?” aku cengo kembali.

“tentu saja kamu masuk bersama kami di Backstage dan kamu dapat tempat V.I.P bersama keluarga kami, neo pabo.” iya terseyum santai meskipun keringat masih bercucuran di dahinya.

Kata- kata itu membuat aku membuka mulutku lebar-lebar. Dan pikiranku kosong seketika.

“Lau?”

“lau?”

seseorang mengibas tangannya di hadapanku.

“hyung, ku pikir ia pingsan.”

“coba kau goyangkan bahunya.”

“ya, lau, kau tidak apa-apa?”

seseorang sekarang mengerakan bahuku.

“hyung, bagaimana ini? Ia tidak menjawab.”

“err… Coba kau peluk dia.”

“baiklah.”

Sekarang ada rasa hangat menjalar di tubuhku. Yang langsung membuat otak ku sadar apa yang telah terjadi. Seseorang memelukku. Sebentar… MEMELUK?!

“wuoh!!” aku mendorong namja di depanku ini. Terlihat wonwoo yang kaget dengan reaksiku ini.

“wuah! Hyung! Akhirnya dia sadar juga!” wonwoo tersenyum lega.

“opp-…ah.. Kau… Kenapa memelukku?” tanyaku sambil menyilangkan tangan di depan dadaku.

“karena mungkin jika memegang tanganmu tidak akan mempan. Lagipula kenapa kau tiba-tiba bengong sendiri?” tanya wonwoo dengan muka merah.

“ah..emm..aku hanya kaget dengan ucapan S.coups oppa..” aku menurunkan tanganku. Mungkin sekarang mukaku sudah memerah.

“ha? Aku?? Aku salah apa?” S.coups menunjuk dirinya dengan bingung.

“itu… Tentang konser…”

“ah… Itu… tapi kami benar-benar memberimu free ticket.”

“kenapa oppa?” aku bertanya lagi.

“ermm… Pertama karena kau sudah kami anggap sebagai adik, dan kedua karena permintaan seseorang.” ia tersenyum hangat.

Seseorang?? Siapa?? Apa mingyu?

“nugu oppa?” aku bertanya kepadanya.

“rahasia, tapi yang pasti, kau datang kan?” ia mengalihkan pembicaraan.

“pastinya dong!!” aku berteriak kegirangan dengan tak sengaja mengucapkan bahasa indonesia. Yang langsung di tanggapi heran oleh semua orang.

“kau bicara apa?” tanya DK yang tadi baru kembali dari toilet.

“ah.. Tentu saja aku akan datang.” aku tersenyum lebar kepada mereka.

“hmm… Baiklah, kita istirahat sebentar untuk makan malam.” ucap S coups kepada semuanya yang di sambut teriak girang.

“kita mau makan apa hyung?” tanya Dino.

“aku mau pizza!!” aku dan vernon berteriak berbarengan.Kami bertatapan mata lalu melakukan Highfive.

“aku juga mau pizza coups-ah.” ucap Jeonghan yang duduk di samping Joshua.

“pizza?? Hmm baiklah, seungkwan tolong pesankan ya. Hari ini aku yang bayar.” ia merebahkan badannya di lantai.

“baiklah hyung!!” seungkwan bangkit berdiri dengan semangat lalu mengambil hapenya dan berjalan keluar.

“Lau… Bisa bicara sebentar?” ucap Mingyu lalu berjalan keluar. Aku pun mengikutinya.
.
.
.
.
.
*flashback yesterday

Wonwoo pov

“coups Hyung, aku ingin bilang sesuatu.” aku menghampiri S.coups yang sedang memainkan hape.

“wae?” ia pun terduduk.

“konser nanti… Bolehkah aku mengajak seseorang selain keluargaku?”

“nugu??” ia menatapku heran.

“lau…” aku memeluk bantal S.coups.

“kenapa memangnya? Bukannya dia fans kita? Tentu saja ia pasti datang.”

“tapi hyung… Aku hanya ingin memastikan jika ia datang. Aku ingin melihatnya ketika konser.” aku menutup mukaku dengan bantal.

“woah neo. . kau benar-benar menyukai nya?” ia terlihat kaget.

“mungkin..”

“tapi jika kau ingin memberikan tiket kepadanya aku tidak punya hak untuk-”

“aku akan membayarnya.” aku memotong pembicaraannya.

“eh?”

“aku akan membayar tiketnya.” aku menatapnya serius.

“kau serius?” ia menatapku kaget.

“iya hyung.. Yang pasti aku mau dia datang ke konser kita.”

“baiklah, wonu-ya, kau benar-benar namja ya.” ia menatapku dengan bangga.

” hmm tidak juga. Ah! Satu lagi hyung”

“wae?”

“ini rahasia antar kita berdua saja ya.” aku menatapnya dengan sungguh.

“wae yo? Baiklah-baiklah, sana aku mau tidur.” ia mengusirku.

“hyung..”

“apa lagi??” ia menutup matanya.

“gomawo.” aku tersenyum lalu berdiri dari tempat tidurnya kemudia mematikan lampunya.

*flashback end
.
.
.
.
.
Lau pov

“ah kenyang nya.” aku memasukan kedua tanganku ke dalam jaketku.

“yah, kau tau makan mu sangat unik? Bagaiman kau bisa memakan 5 pizza. Memang dari tadi pagi kau tidak makan?” mingyu menatapku sambil tersenyum.

“aku memang big eater hahaha.” aku menanggapi candaannya.

“hmm… Lau…” ia menggosok hidungnya.

“ah! Ada yang ingin ku tanyakan kepada oppa” aku memotong pembicaraannya. Rasa penasaranku terhadap orang yang memintaku datang tidak hilang-hilang. Dan mungkin ini saat yang tepat untuk menanyakannya.

“wae?” ia menatapku hangat.

“apa oppa yang meminta S.coups oppa untuk mengundangku ke konser? ” tanyaku perlahan.

Kulihat ia terdiam sesaat kemudian tersenyum tipis
“bagaimana kau tahu?” ia bertanya kembali.

“kenapa oppa? Aku jadi tidak enak tahu.” aku menunduk malu dan jujur aku merasa senang sedikit, karena dengan begitu aku bisa melihat wonwoo.

“bagaimana ya? Aku ingin yeoja yang kusukai datang menyaksikanku.” ia memalingkan wajah dan memasukan tangannya ke saku celananya.

“aish oppa…” kata-kata itu membuat aku memerah kembali.

“hahaha.. Jadi Lau bagaimana jawabanmu?” ia berhenti tertawa dan menatapku serius.

“oppa katanya memberiku waktu.” aku menyipitkan mataku.

“ah iya aku lupa.” ia memukul jidatnya dengan perlahan.

“tapi ngomong-ngomong, kenapa oppa bisa menyukaiku? Padahal aku pernah di marahi dan memuntahimu. Kau aneh oppa.” aku tidak menatapnya karena aku sangat malu dengan pertanyaan ini.

“hmm… Karena aku berpikir bahwa kau adalah gadis yang tidak akan kudapat jika aku berpikir ke 2 kalinya.” ia menjawabnya dengan tenang.

“mwoya igo? Oppa kira aku barang? ” aku berpura-pura marah, dan berjalan cepat karena aku merinding mendengar kata-katanya.

“ya, tunggu aku.” ia mengikutiku.
.
.
.
.

“gomawo oppa, hati-hati di jalan oppa.” aku melambaikan tangan ke dia dan naik ke Bus. Namun tanganku di tarik oleh mingyu.

Oh tidak semoga tidak terulang lagi…

“kau juga hati-hati di jalan.” ia menarik tanganku dan aku jatuh ke dalam dadanya yang bidang. Tangannya melingkari pinggangku dengan erat.

Oh Tuhan… Semoga ia tidak menyadari dadaku yang sudah mau meledak.

“i..iy.. Iya oppa..” aku mendorong sedikit dadanya agar bisa bernapas.

“besok kau ada acara?” ia bertanya kepadaku sambil melonggarkan sedikit lengannya.

“a…a..ada” ucapku terbata-bata. aku sangat bersyukur karena ia memakai hoodie dan topi sehingga menutupi mukanya dari kejauhan.

Ia mengerutkan keningnya, “acara apa?”

“itu…aku… Ah bukan… Mirae mau datang ke asramaku besok, orangtuanya pergi lagi.” aku menjelaskannya perlahan-lahan. Meskipun itu adalah bohong.

Ia terlihat sedih lalu menghela napas, “baiklah, padahal aku free besok. Aku ingin mengajakmu nonton. Tapi yasudah lah. Titip salam untuk temanmu ya, jika dia juga fans kami. ”

“i..iya oppa, aku pulang dulu. Annyeong.” aku langsung berbalik dan naik ke dalam bus.
.
.
.
.

Wonwoo pov

“hyung” suara itu mengalihkan fokusku yang sedang menulis rap. Terlihat mingyu yang datang menghampiriku sambil memegang 2 gelas kopi.

“apa?” aku bertanya kepadanya.

“ini” ia memberiku segelas kopi yang ia pegang. Kopi favoritku.

“hyung, aku ingin bicara sesuatu.” ia duduk disampingku sambil menyesap kopinya.

“apa?” aku bertanya lagi. Ia terlihat ragu untuk mengatakannya.

“aku… Menyatakan perasaanku pada seseorang.” ia tidak menatapku.

Waktu serasa berhenti di sekitar kami, sangat sunyi sampai beberapa detik kemudian aku tersadar sendiri.

“mwo??” aku ingin memastikan apa yang ku dengar. Karena perasaanku mulai merasa ada yang ganjal

“aku menyatakan perasaan ku padanya” ia mengulanginya.

“ke siapa?” aku bertanya lagi. Jujur mungkin ini pertanyaan paling menakutkan bagiku sekarang.

” ke Lau.” ia langsung menjawab dan kemudian menyesap lagi kopinya dengan gugup.

“waeyo? Bukankah kau tidak suka melihatnya?” aku bertanya lagi. Jujur aku tidak ingin bertanya -tanya lagi karena memang aku sudah kalah.

“aku.. Hanya menyukainya saja setelah pertemuan ke 2, ia sangat unik dan aku menyukainya.” ia menatap ke atas sambil tersenyum tipis.

“ohh… Baguslah… Selamat ya…” aku tersenyum tipis dan menundukan kepalaku.
.
.
.
.

Lau pov

Aku berjalan ke sekolah dengan langkah gontai seperti tidak bernyawa. Gara-gara tidak bisa tidur tadi malam karena seorang Kim Mingyu yang dengan santainya memelukku. Di depan halte. Apa ia selalu begitu pada setiap fans nya.

Terlihat di depan pintu masuk sekolah ku sedang ada kerubunan orang termasuk Mirae. Aku berteriak memanggilnya.

“Mirae -ah” sepertinya ia mendegar suaraku dan kemudian keluar dari kerumunan itu dan berlari ke arahku dengan wajah tegang.

“YA, APA YANG KAU LAKUKAN KEMARIN?” pertanyaan itu langsung membuatku cengo sesaat.

“ha?”

“kau masuk berita tahu.” pemyataan itu makin membuatku cengo.

“ha?…HAH?!” aku ikut berteriak.

“ku tanya kau ngapain kemarin setelah pertandingan?” tanya Mirae lagi.

“aku… Hanya bertemu Mingyu..” aku menjawabnya pelan.

“kau tahu kenapa kau masuk berita hari ini?” tanyanya lagi.

“iya kenapa?” aku berusaha untuk tenang sekarang. Karena aku mulai merasakan perasaan buruk sekarang.

“lebih baik kau ikut aku sekarang.” ia menarik tanganku dan berlari masuk ke kerumunan.

Semua orang melihatku dengan tatapan tajam. Setelah aku d kerumunan itu, aku melihat di papan pengumuman yang bertuliskan :

SISWA DARI SEKOLAH XXX MEMUNTAHI SEORANG IDOL DAN MEMAKSANYA UNTUK MEMELUKNYA!!!

Something about you chap 11

image

Cast: wonwoo , mingyu and 11members,
My friends
Theme : comedy , romance
Rate: 16+

Mingyu pov

“kim mingyu! ” tepukan di atas mejaku langsung membuat syarafku kaget sehingga badanku menjadi duduk tegak dan menatap orang yang tadi berteriak itu.

“ne ?,” tanyaku dengan bodohnya.

“kau dengar apa yang kuterangkan tadi?” tanya orang itu yang tak lain adalah Taehyung sonsaengnim (maap kalo salah ejaan).

Matanya yang tajam menusuk mungkin akan segera menggosongkan mataku jika dari sana keluar laser.

“dengar , guru.” ucapku dengan tidak yakin. Kusadari jika semua mata sekarang melihatku. Urgh… Aku tidak suka situasi seperti ini.

Aku sangat tidak ingin mencari masalah dengan guru yang satu ini, selain S.coups hyung akan marah jika merusak nama baik Seventeen, guru ini terkenal tidak bisa dibantah ucapannya.

“coba sebutkan apa yang ku jelaskan tadi.” ia menyilangkan tangannya di depan dada .

“guru sedang memilih siapa yang akan bermain di pertandingan antar sekolah minggu depan.” aku menjawabnya dengan tegas. Terima kasih dengan papan tulis hitam yang bertuliskan “lomba antar sekolah” . Sepertinya guru itu tidak tahu jika aku mengintip papan tulis itu, atau dia lupa menghapusnya.

Guru itu pun akhirnya mengangguk dan bertanya lagi. “dan kamu jadi pemain bagian apa nanti?” tanya nya lagi.

“aku? ” tanya ku, sambil menunjukan diri sendiri.

“iya ” ia masih menatapku dingin.

“aku … Tidak tahu .” aku menghindari tatapannya.

“kau ikut dalam pertandingan sepak bola.” bisik teman sebelahku.

“mwo? Sepakbola? Aku?” aku bertanya-tanya seperti orang bodoh.

“iya sepakbola, dan kau tidak boleh tidak ikut. Itu hukuman karena tertidur di pelajaranku”. Ia berjalan kembali kedepan.

“kita sudahi pelajaran hari ini, sekian.” ia membawa bukunya dan berjalan keluar.
.
.
.
.
.

Aish, ini semua gara-gara latihan sampai tidak tidur kemarin.

Aku pun membereskan barang-barangku dan berjalan ke lokerku. Ketika membuka nya , tumpukan surat dan barang berjatuhan.

Sabar, kim mingyu, kau ini seorang idol sekarang ,wajar banyak yang memberimu barang dan surat seperti ini.

Aku memungut surat-surat dan barang-barang itu dan kumasukan ke dalam sebuah tas belanja yang tiap hari kubawa untuk jaga-jaga.

“aku harus bilang apa ke hyung kalau begini.” aku berjalan keluar sekolah sambil menjinjing tas itu.
.
.
.
.
.

Lau pov

2 minggu setelah adegan yang ‘sangat’ mengagetkan itu membuatku menjadi bengong tiap harinya. Malah mungkin nyawaku sedang ada di kamar dan di kelas ini hanya ada tubuh saja.

“yak, mau sampai kapan kau bengong seperti ini? Kau beruntung tidak ada guru yang tahu jika kau sedang bertingkah seperti ini. Dari pagi.” omel Mirae dengan memberi jitakan keras untuk jidatku.

“sakit tau.” aku mengelus-elus jidatku.

“biarin saja, setidaknya itu membuatmu terlihat hidup.” ia mengambil tas nya dan berjalan keluar.

“ya, tunggu aku.” aku juga mengambil tas ku dan mengejarnya .
.
.
.
.
.

“jadi ada apa dengan mu? ” Mirae bertanya kepadaku . Kami baru saja belanja untuk makan malam dan hari ini Mirae akan makan malam di kamarku.

“aku hanya sedang shock.” jawabku singkat.

“apa yang membuatmu shock?” tanyanya lagi.

“jika ada orang yang mau kita panggil berbeda dengan yang lain tandanya apa?” tanyaku tanpa menghiraukan pertanyaan Mirae.

“omo! Masalah cinta? Sejak kapan kau menyukai orang?” ia menatapku dengan tatapan ‘akhirnya – seorang – lauren – bisa menyukai – namja – korea – kecuali – Seventeen’

“ya, aku bertanya kepadamu, tandanya apa?”

“itu artinya dia ingin kamu mengkhususkan dia dari yang lain. Sudah kujawab, Sekarang kau harus menjawabku, Lau.” ia menatapku dengan mata lebar.

“khusus? Hmmm” aku berusaha memutar otak kenapa aku harus mengkhususkan Wonwoo.

Apa ia punya trauma di panggil ‘oppa’ oleh yeoja ? Apakah ia tidak suka jika aku memanggilnya oppa?

“yak! LAUREN ku yang tuli.” teriak Mirae di telingaku.

“aish Mirae -ya , kau benar-benar akan mentulikan ku jika begitu.” aku menggosok telingaku.

“biarin saja.”

“kau benar-benar tidak akan memberitahu siapa-siapa?” aku bertanya dengan sungguh-sungguh kepadanya. Karena aku tidak tahan jika tidak berbagi rahasia ke sahabatku satu ini.

“aku berjanji, aku akan tidak menjalin hubungan dengan siapapun selama 1 tahun jika membocorkannya.” sumpah Mirae.

“baiklah ayo ke Dorm ku , akan ku ceritakan kepadamu nanti. ” aku berjalan mendahului dia.
.
.
.
.

“ah segarnya, Lau , sekarang giliranmu mandi. Sana ,mungkin badanmu sudah berjamur karena kebanyakan bengong di kelas.” ucap Mirae yang sehabis mandi.

Karena di rumah Mirae sedang tidak ada orang , orangtuanya sedang berkunjung karena kakeknya sakit di busan. Mereka meninggalkan Mirae dari tadi siang sehingga ia tidak ikut pergi. Sedangkan kakak Mirae sedang ikut Camping bersama teman-temannya selama 3 hari. Jadilah, mirae berencana untuk menginap di dorm ku. Lagipula besok libur sekolah dan tidak ada kegiatan apapun.

Aku pun mengambil handuk dan baju dari lemari dan masuk ke kamar mandi. Di dalam pikiranku masih di liputi dilemma untuk menceritakan ke Mirae atau tidak. Aku takut jika ia membocorkannya dan menghancurkan hubunganku dengan para member.

Aish, Lauren! Bagaimana kau bisa tidak percaya kepada sahabatmu sendiri?

Aku menarik napas dalam- dalam,” baiklah, aku akan menceritakannya.” aku mempercepat mandiku.
.
.
.
.
.
“MWO?! Kau kenal dengan member Seventeen dan sudah datang ke dorm mereka 2 kali?!” Mirae berteriak dan langsung ku bekap mulutnya.

“ya! Jangan berteriak ! Bagaimana jika orang lain mendengar, pabo!” aku memarahinya.

“baiklah-baiklah, beri aku waktu 5 detik untuk mencerna apa yang kau ceritakan ini.” ia sepertinya sangat kaget bahkan mungkin shock.

“…3…4…5, sudah mencerna?” aku bertanya kepadanya. Masih banyak lagi yang mau ku ceritakan .

Ia menarik napas,”baiklah , silakan lanjutkan.”

“lalu aku juga di antar pulang oleh wonwoo.” aku mengatakan itu dengan muka yang tiba-tiba memerah.

“astaga, kau benar -benar beruntung ,Lau .” ucap Mirae .

“lalu , bagaimana dengan Joshua? ” ia bertanya , sepertinya ia benar-benar menyukai Joshua.

“hmm, seperti yang dilihat, dia sangat bijak dan senyumannya lebih bagus daripada yang di foto.” aku membayang kan senyum Joshua.

“ah, aku ingin melihatnya juga.” ia menelentangkan badannya di atas kasurku.

“tapi bukan itu masalahnya , masalahnya ada di Wonwoo.” aku menatapnya serius.

“kenapa dia?” ia terduduk kembali.

“dia tidak ingin aku memanggilnya oppa.” aku menunduk.

“kenapa memangnya? ” ia bertanya kembali.

“aku tidak tahu kenapa tidak boleh memanggilnya oppa, sedangkan yang lain memperbolehkanku memanggil mereka oppa” aku ikut duduk di samping Mirae.

“astaga, Lau, kau masih belum mengerti? Aku tidak percaya kau sebegitu bodohnya dalam soal cinta.” Mirae menatapku sambil mendecak.

“maksudmu?” aku menatapnya tak mengerti.

“dia menyukaimu , neo pabo. ” kata- kata itu memberhentikan ku sesaat.

“mwo? Menyukaiku? Tidak mungkin, pabo!” aku menjitak Mirae .

“ya! Kenapa menjitakku? Aku serius tahu. Dia menyukaimu. Memangnya kau kira aku main-main ” Mirae mengusap jidatnya.

“tapi… Kalau itu benar , aku tidak tahu kenapa ia bisa menyukaiku.” aku bergumam sendiri.

“sudahlah , lanjutkan ceritamu .” Mirae duduk dan memeluk bantalku .

“apa?”

“ceritamu , tidak mungkin hanya segitu saja.”

“yang ku ceritakan itu sudah semuanya. Hoam… Ayo tidur , aku sangat ngantuk. Sekarang” aku beranjak dari tempat tidur dan mematikan lampu.

“aish jinjja..”

.
.
.
.

Hari pertandingan akhirnya tiba, dan ini adalah tanda untuk mencari ‘namja tampan dari berbagai sekolah’ bagi anak- anak perempuan sekolahku.

Kulihat banyak sekali kamera besar yang mereka bawa , dan sepertinya ada banyak wartawan di sana. Dan beberapa… Eh? Orang-orang berjaket hitam dan memakai masker berdiri di depan gang sekolahku. Sepertinya mereka bukan anak sekolahan di sini.

Apa yang mereka lakukan di sini? Apa jangan-jangan ada artis?

Aku berjinjit untuk melihat ke arah lapangan sepak bola . Ronde pertama yaitu sekolah kami melawan sekolah Hwayeong, sekolah yang tepat di sebelah sekolah kami.

Kusipitkan mata untuk melihat dengan jelas papan score .

Hmm.. Sepertinya kita lebih 1 point dari,mereka .

Aku melihat pemain-pemainnya, dan mataku membesar .

Itu… Mingyu oppa?

Aku menggosok mataku dan melihat sekali lagi ke arah pemain tinggi yang memakai baju bernomor 4 .

Astaga..itu beneran mingyu oppa! Pantas banyak kamera dan orang -orang misterius itu di sini.

“fighting!” aku ikut menyemangati mereka. Kedua tim maksudnya.

Sepertinya teriakanku terdengar oleh Mingyu karena ia terlihat mencari seseorang.

“fighting! ” aku berteriak sekali lagi. Kali ini ia berhasil menemukanku dari kerumunan.
Aku melambaikan tangan kepadanya.
Ia memberiku senyum dan kembali fokus ke permainan.

Sekarang banyak pasang mata yang menatapku curiga.

Untung aku tidak memanggil namanya.

Aku pun berjalan pergi dan pergi ke stan minuman. Kubeli 2 gelas lemon juice yang mungkin rencananya akan keberikan ke Mingyu setelah pertandingan.

Aku kembali ke pertandingan dan melihat papan score sekali lagi. Aku sangat kaget melihat perubahan score itu.

“woah daebak! Aku pergi dalam waktu 10 menit dan perubahannya cepat sekali. ” aku melihat papan score yang menunjukan sekolah hwayeong mendahului kami. Berbeda 10 point dalam waktu tersisa 1 menit.

Ya sudahlah , kita kalah.

Aku mencari mingyu dan sepertinya ia sedang mencari seseorang .

Dia mencari siapa sih?

Aku menatapnya dan mulai berpikir apakah ia punya pacar di sekolah ini.

Mata ku bertemu lagi dengan mingyu. Ia sepertinya sedang berkata sesuatu. Aku berusaha membaca mulutnya.

Tu-nggu a-aku , tunggu aku? Hmm.. Baiklah.

Aku memberi insial ‘ok’ ke dia.
.
.
.
.

Pertandingan selesai dengan kemenangan telak pada sma hwayeong . Pemain -pemain keluar lapangan dan berpisah. Ada yang pergi menuju stan minuman, ada yang pergi ke toilet dan ada juga yang keluar sekolah.

Aku masih menunggu Mingyu di luar lapangan. Tadinya aku mau menunggunya di depan gerbang sekolah , tetapi orang- orang itu sepertinya masuh terus menunggu dan memotret mingyu.

Cih … Fans fanatik.

Aku mendecak dan kembali menyeruput minumanku. Aku baru sadar minumanku sudah habis. Lalu aku melihat segelas minuman disebelahku.

“apa dia lupa jika ada seseorang yang sedang menunggunya di sini.” kesabaranku sudah habis. Dan godaanku untuk meminum minuman itu pun semakin muncul.

“ah sudahlah.” aku pun mengambil gelas itu dan langsung menyeruputnya.

Tiba-tiba ada tangan yang menepuk pundakku. Membuatku dan mulutku yang berisi minuman lemon itu tidak bisa ku telan . Aku melihat orang yang menepukku.

“sudah menunggu lama?” tanya mingyu dengan handuk kecil di lehernya.

” woah, ada minuman , kebetulan aku haus sekali sekarang.” ia langsung mengambil gelas yang ada di tanganku dan langsung menyeruputnya.

Omo!! Ciuman pertana tidak langsung !!

Mulutku yang masih penuh dengan air langsung muncrat keluar. Dan di selingi dengan batuk karena tersedak minuman.

Mingyu yang terkena muncratan minumanku langsung ikut tersedak juga karena terkena serangan tiba-tiba dariku.

Aku langsung berdiri dan berteriak kepadanya.

“ah oppa!!” aku menatapnya dengan muka merah.

“ya ! Apa yang kau lakukan?” ia ikut berdiri dan mengelap mukanya dengan handuk itu.

“ah, oppaa kau tahu apa yang kau lakukan tadi?” aku bertanya kepadanya . Mataku mulai berkaca-kaca.

“waeyo? Memang nya apa yang kulakukan sampai kau memuncratiku?” ia bertanya balik kepadaku.

“nae kiss oppa” aku merengek kepadanya.

“mwo?” ia bertanya lagi.

“ah oppa! Kau merebut ciuman pertamaku!” aku berteriak kepadanya. Untungnya di sana sudah sepi .

Ia terdiam dan menatapku. Ia menatap gelas yang dia pegang dan menatap lagi ke arahku.

“ini?” ia menunjukan gelas itu.

Aku tidak menjawab dan hanya mengangguk pelan.

“mianhae Lau. Aku tidak tahu kau sudah meminumnya. ” ia menaruh gelas itu dan memegang tangan ku.

“ayo duduk Lau.” ia menarik tanganku . Aku pun kembali duduk di sebelahnya. Aku terisak dengan pelan.

“ya, jangan menangis, aku benar-benar tidak tahu. Jinjja minhae ,Lau..” ia mengusap air mataku.

“Lagipula ,sebegitu tidak sukanya kau jika berciuman denganku?”

Mendengar pertanyaan itu, tangisanku langsung berhenti. Aku menatapnya dengan aneh.

Pertanyaan yang aneh..

maksud oppa?” aku menghapus air mataku dan menatapnya bingung.

Ia tersenyum dan memegang kedua tanganku.

“aku menyukaimu.. Maukah kau menjadi pacarku? ” ia menatapku.

Aku hanya bisa terdiam menatapnya. Ribuan pikiran datang bersama-sama diotakku.

“Lau?” ia memanggilku.

“lau? Kau mendengarku?” ia mengibas-ngibas tangannya di depan mukaku.

“ne?”

“lalu apa jawabanmu?” ia tersenyum kembali.

“aku tidak tahu oppa..” aku menundukan kepala.

Aku ditembak oleh seorang kim mingyu dan kau tidak berdebar-debar? Kau pasti sudah gila, Lau.

“baiklah aku akan memberimu waktu untuk memikirkannya. ” ia mengusap tanganku dengan lembut.

“gomawo oppa… Mianhae , kejadian ‘muntah’ terulang lagi. ” aku menarik handuk darinya dan membantu membersihkan rambunya yang juga ikut kena minuman itu.

“hmm … Sebagai gantinya kau harus menuruti permintaanku.” ia menatapku dengan senyum smirk.

“apa oppa? Jangan yang macam-macam ya .” aku mengelap rambutnya.

“kau harus ikut denganku.”

” kemana? ” aku bertanya lagi.

“temani aku latihan .” ia memegang tanganku lagi.

“mwo? Apa tidak mengganggu? ” aku bertanya lagi kepadanya. Jujur aku menyukai tangannya yang besar yang sedang mengusap tanganku.

“tentu saja tidak, kajja.” ia beranjak sambil menggenggam tanganku.

“tunggu oppa .” aku memberhentikan dia.

Ia berbalik dan menatapku lagi.”kenapa?”

“aku ingin beli minum dulu.” aku menunjuk stan minuman.

“aish kau ini. Baiklah.” kami pun pergi membeli minuman dan pergi dari tempat itu.
.
.
.
.

Author : hay semua!! Sorry chapter ini engga ada wonwoo nya hehehe. Semoga suka ya . Annyeong!!

Something about you chap 10

image

Cast : wonwoo and 12 members + OC
Rate : 16
Theme : comedy ,romance, easy reading

Lau pov

Makan malam hari ini mungkin bisa di bilang makan malam paling mengesankan yang pernah kumakan selama ada di korea.

Makan dengan para member dari boygrup favorit. Setelah itu bermain dengan mereka ,dan menonton bersama.

“terima kasih banyak untuk hari ini oppa-deul” aku membungkukan badan ku saat berada di depan pintu.

Aku di perbolehkan memanggil mereka dengan kata oppa, karena mereka mengatakan sudah merasa dekat denganku. Begitu pun aku.

Bisa di bilang tidak ada suasana canggung lagi di antari kami, kecualu ketika aku dengan Wonwoo. Entah kenapa ia diam terus dan ketika aku curi-curi pandang melihatnya, ia juga sedang melihatku sambil tersenyum.

“datanglah ke sini jika merasa bosan atau kesepian. ” kata Jeonghan yang sedang mengikatkan rambutnya.

“ne, gomawo oppa. Jika ada kesempatan akan kubawakan mochi dari Indonesia ke sini. ” aku memberikan senyum manis ke mereka.

” mari ku antar pulang” Wonwoo maju dari antara mereka dan memakai sepatunya.

“ani tidak usah , aku tidak. Ketinggalan bus kok.” aku menolak tawaran itu. Karena akan bahaya jika ada media yang mengatakan ‘idol dari Seventeen sedang berkencan dengan wanita’ .

“ani , ayo ku antar pulang.” ia sekarang sudah ada di depan pintu.

“ah, aku lupa harus menjemput adik ku.” aku berusaha mencari alasan .

Ia menatapku dengan heran, “katanya kamu sendirian di Korea dan semua keluargamu ada di Indonesia?”

Sial , teliti juga dia

“ah, itu…” aku berusaha mencari alasan lain.

“sudahlah lebih baik kamu di antar dengan Wonwoo, Lau. Lebih aman.” kata S.coups yang sepertinya bisa membaca pikiranku yang sedang mencari alasan lain.

“kau dengar kan? ” wonwoo menatapku dengan senyum smirknya.

“baiklah, tapi hanya sampai terminal saja , ara?” kataku kepadanya lagi.

“waeyo?” ia bertanya lagi.

Aku menghela napas dan berkata dengan pelan , “aku tidak mau oppa tertangkap oleh media. ” aku menatapnya serius.

Keadaan hening sejenak.

“omo, adikku ini ternyata perhatian sekali dengan kita.” kata Joshua sambil tersenyum yang membuat aku gugup.

“itu…” astaga kenapa aku mengatakannya. Neo pabo!

“baiklah, sampai terminal. Ayo pergi.” wonwoo memberikan senyum dan kemudian membuka pintu.
.
.
.

” sepertinya kau dekat dengan member lain sekarang.” ucap wonwoo yang memulai pembicaraan .

“mungkin bisa di bilang begitu, ” aku tersenyum sambil memasukan kedua tangan ku kedalam jaketku. ” tapi mereka sangat friendly sehingga bisa cepat berbaur denganku, padahal aku susah sekali jika harus berkenalan duluan. ”

“jinjja? Temanmu di sekolah ada berapa?” tanya wonwoo sambil menyamakan langkahnya dengan ku.

“hmm.. Mungkin bisa dihitung dengan jari. Mungkin 5 mungkin.” aku mencoba mengingat nama teman-temanku.

“woah, kau benar – benar introvert.” ia menatapku dengan tidak percaya.

“sudah ku bilang kan. Lalu bagaimana denganmu oppa?” aku bertanya kepadanya.

“hmm.. Aku tidak bisa menghitung teman-temanku ada berapa. ” ia memberikan senyum kepadaku.

“pasti temanmu banyak.” aku mengerucutkan bibirku.

Terminal bus sudah ada di depan mata, dan seperti biasanya . Selalu ramai, karena daerah asramaku termasuk daerah yang padat di Seoul.

“oppa terima kasih sudah menemaniku. Kau bisa pulang sekarang, biar aku yang menunggu bus. ” aku mengatakan itu, karena kulihat , Wonwoo menguap tadi ketika berjalan ke sini.

“ani, aku akan menemanimu sampai bus nya datang.” ia bersikeras menahan menguap sekarang.

“tapi , besok kan oppa mau Live di Show champion.” aku berkata kepadanya, yang langsung dapat reaksi kaget dari Wonwoo.

“kau tahu dari mana?..”

“tadi seungkwan memberitahuku jadwal kalian.”

“ah, anak itu, padahal coups hyung tidak memperbolehkan kita memberitahu jadwal ke orang lain.” ia menggerutu.

“tapi S.coups oppa yang memberitahu jadwal kalian secara lengkap tadi.” aku tersenyum senang karena melihat wonwoo yang sedang menatapku kaget.

“tenang saja oppa, aku tidak akan bocor ke teman-temanku kok. Aku trauma dengan kata-kata Mingyu, jadi aku tidak akan menyebar-nyebar info pribadi kalian.” aku menenangkan dia.

Bus pun datang, “aku pulang dulu oppa.” ketika aku ingin naik. Tanganku di tarik oleh Wonwoo. Tatapannya menatapku langsung yang membuatku gugup seketika.

“kau…” ia mendekatkan kepalanya ke hadapanku.

“bisakah kau tidak memanggilku oppa? Aku tidak mau di panggil dengan panggilan yang sama dengan yang lain .” sekarang wajahnya sudah tinggal beberapa centimeter lagi dari hadapanku.

Aku sadar mukaku sudah panas dab mungkin semerah tomat sekarang.

“aku mau kau memanggilku dengan panggilan khusus, yang berbeda dengan yang lain. Ara?” ia mengakhiri ucapannya itu , tetapi wajahnya masih ada di dekatku.

Aku yang sangat gugup hanya mengangguk-angguk saja.

“bagus.” ia tersenyum . Wajahnya menjauh dari hadapanku.

“aku pulang dulu. ” aku menunduk dan segera memasuki bus .

“hati- hati” ucap wonwoo dengan senyum smirknya.

Something about you chap 9

image

Cast: wonwoo and 12 members,
My friends
Theme : comedy , romance
Rate: 16+

Lau pov

Oke. Dan akhirnya aku lupa mengambil kartu pelajarku kemarin. Dan sekarang hanya menerima kenyataan untuk membayar lagi kepada sekolah untuk membuatkan yang baru.

“Hah…uangku…” aku menghela napas berat sambil berjalan ke kelas. Karena uang yang susah payah kutabung untuk membeli album seventeen yang selanjutnya harus dipakai untuk membuat kartu baru.

“Kenapa aku lupa memintanya kemarin ” aku memukul kepalaku.

Tapi aku teringat kejadian kemarin, benar -benar bagaikan mimpi. Aku bahkan tidak bisa tidur kemarin dan bahkan belajar untuk ulangan hari ini tidak ada yang masuk ke otak.

Rencananya aku mau menceritakannya ke Mirae, tapi aku selalu teringat kata-kata tajam mingyu kemarin.

“Sekarang setelah tahu dorm kami, kau akan membeberkannya ke media?”

“Aish.. baiklah akan kujaga privacy kalian. Lagian aku bukan stalker. ” menyebalkan sekali memikirkannya.

Aku membuka buku biologi ku untuk ulangan hari ini.

Tring

Satu pesan masuk yang langsung membuyarkan konsentrasiku.

“Siapa sih?” Aku membuka hape ku.

(Ah yang perlu kalian (pembaca) tahu, hapeku sudah dibetulkan oleh kakaknya Mirae dan ia memberikannya ke aku kemarin siang. )

Fr: 01-99x-xxx-xx

Noona, semoga harinya menyenangkan. Fighting!

Noona?, siapa ini?

Aku pun membalas nya.

To: 01-99x-xxx-xx.

Maaf sepertinya anda salah kirim pesan.

Aku pun meletakan hape ku dan mulai membaca lagi.

Tring

Ku buka pesan itu dan makin keheranan membacanya.

Fr: 01-99x-xxx-xx

Kau Lauren noona kan?

Darimana dia tahu namaku?

To: 01-99x-xxx-xx

Nuguseyo?

Aku mengirim pesan itu dan langsung dibalas sekian detik.

Fr: 01-99x-xxx-xx

Aku Dino ,noona.

Aku perlu membaca pesan itu 3 kali agar bisa sadar siapa yang sedang berkirim pesan denganku ini.

Darimana ia tahu nomorku? Apa dari Wonwoo? Tapi aku juga tidak pernah memberinya nomorku.

To : 01-99x-xxx-xx

Kamu tahu nomorku darimana? Ngomong-ngomong, terimakasih dan semoga harimu cerah juga.

Aku membalas sesopan mungkin dengannya. Meskipun ia lebih muda dari aku, ia tetap termasuk idola ku .

Tring

Fr: 01-99x-xxx-xx
.noona tidak ingat? Kemarin kan noona memperbolehkanku minta nomormu. Ngomong-ngomong, s.coups hyung mau mengajak mu untuk makan bersama kami lagi.

Ha? Aku? Masa sih aku berkata seperti itu?

To: 01-99x-xxx-xx
Ah jinjjayo? Aku berkata begitu? Hmm… baiklah aku akan merahasiakan nomormu dari teman-temanku.

Lihat kim mingyu, aku menjaga privacy kalian .

Fr: 01-99x-xxx-xx

Gomawo noona.. jadi bagaimana?

Aku bingung membaca itu. Bagaimana apa?

To: 01-99x-xxx-xx

Apa?

Aku mengetik pesan itu sambil mencoba membaca sedikit buku pelajaran ku.

Fr: 01-99x-xxx-xx

Soal ajakan itu.

Ajakan? Ajakan apa?

Aku menscroll ke atas pesan – pesanku . Dan baru baca soal ajakan scoups untuk makan bersama.

Astaga aku baru sadar jika tadi aku di undang . Oleh S.coups? Untuk apa ia mengundangku. Hmm sebentar, jika aku menerima ajakan itu , aku akan bertemu lagi kan? Hmm… Baiklah aku akan menerimanya.

To: 01-99x-xxx-xx
Baiklah… Jika aku tidak mengganggu kalian. Hehe.

Lalu aku mendapat balasan dari Dino dalam waktu sekian detik.

Fr: 01-99x-xxx-xx

Baiklah noona. Jam 6 noona tunggu saja di taman dekat sekolah mu. Nanti ada hyungku yang menjemputmu.

Aku harus pergi latihan. Sampai nanti noona, annyeong.

Hmm… Baiklah , jam 6 kan? Berarti ada waktu untuku menggunakan pakaian bagus lebih dari seragam kemarin.

.
.
.
.
.

Matahari sudah hampir tenggelam dan banyak ibu-ibu yang mengajak anak-anaknya pulang. Dan sekarang mulai dipenuhi pasangan-pasangan yang sedang kencan.

Aku menatap mereka iri, andaikan aku punya pacar, mungkin aku akan seperti mereka. Kemudian pikiranku terlintas Wonwoo yang berhasil membuatku merah sendiri.

“ya, apa sudah lama menungguku? ” tanya suara itu, yang berhasil membuatku bergetar.

“mingyu-ssi…” aku menoleh kepadanya.

Omo, tampan sekali

Aku memang tidak berbohong , dia memang tampan dengan kaos biru tua dan celana panjang santai . Sepertinya ia habis latihan tadi.

“maaf aku habis latihan tadi.”

Tumben sekali dia berbicara dengan nada biasa.

“ani, aku baru saja sampai.” bagus audrey, itu adalah salah satu kebohongan terbesarmu karena sekarang kakimu pegal sekali karena menunggu selama satu jam di taman ini.

“hmm… Yeppo.” ia memperhatikan penampilanku.

Apa? Sepertinya telingaku bermasalah. Dia bilang aku cantik? Cih, hinaan apalagi ini.

“tidak, biasa saja kok. Tidak cantik. ” aku merendahkan diri.

“terserahmu saja, yang pasti menurutku kau itu cantik. Dan semua member selalu setuju dengan itu. ” ia memasukan ke dua tangannya ke kantung celana.

Semua? Jinjja?

Aku menatapnya dengan ekspresi ‘bohong sekali ucapanmu’

Ia menghela napasnya. ” ya sudahlah, ayo pergi. Hari ini ada perayaan karena music video kami dilihat lebih dari 2 juta orang.” setelah mengatakan itu, ia tersenyum bangga.

“tentu saja, aku setiap hari menonton music video kalian tahu. Mungkin aku tidak terlalu berpengaruh dalam peningkatan jumlah penonton. Tapi aku sangat senang jika kalian senang.” aku mengatakannya dengan bangga. Dan sadar apa yang telah kuucapkan. Kemudian menunduk malu .

Kami berjalan dalam keheninggan malam ,
Hanya ada bunyi kucing liar yang mengorek sampah orang.

“mianhae.” mingyu memulai bicara.

“ne?” aku menoleh kepadanya.

“aku minta maaf karena kata-kataku terlalu tajam. Ternyata kau berbeda dari yang lain” ia tidak melihatku.

“ani, tidak apa-apa.” aku hanya menunduk.

“kau menerima maafku?” ia menatapku sekarang. Aku sadar perbedaan tingginya membuat aku menjadi sangat kecil.

“tapi kau juga memaafkanku karena tidak sengaja memuntahi hyung kesayanganmu itu?” aku bertanya kepadanya.

Ia terlihat kaget “bagaimana kau tahu…”

“aku fans mu , ingat?” aku tersenyum kepadanya.

“hmm, baiklah, fans tahu segalanya tentang kita.” ia berdeham.
.
.
.
.
“aku pulang.” ucap mingyu sambil mengembalikan sepatunya ke rak.

“woah, noona!” Dino datang kedepan pintu dan menyampiriku.

“annyeong” aku menyapanya sambil memberikan senyum.

“neo jinjja yeppo !” ia memujiku .

“gomawo.” aku memberikan senyum lagi.

“mwoya? Tadi aku memujimu tapi tanggapanmu berbeda.” ia menatapku menuntut.

Aku memberikan senyum kepadanya. “ne ddo gomawo.”

“hei kalian sedang apa di depan pintu? Ayo masuk… Woah! Cantik sekali !” S.coups berteriak.

“ah, gomawo.” aku membungkukan badan.

“ayo masuk.” mingyu mengajak ku masuk.

“ne.” aku mengikutinya dari belakang. Aku membayangkan jika Wonwoo juga memberi tanggapan yang sama dengan yang lain. Mungkin aku tidak akan bisa tidur lagi hari ini.
.
.
.
.

Something about you chap 8

image

Cast: wonwoo and 12 members,
My friends
Theme : comedy , romance
Rate: 16+

wonwoo pov

Aku tidak tahu apa yang telah kukatakan dan yang telah kulakukan. Tapi badanku bergerak sendiri untuk melindungi gadis itu. Aku juga tidak tahu kenapa bisa berteriak ke Mingyu. Padahal Mingyu adalah namdongsaeng kesayangan ku .

Mianhae Mingyu..

Gadis itu juga sepertinya kaget dengan apa yang kulakukan.

“hyung…” mingyu memanggilku dengan tak percaya.

“sudah-sudah, kenapa ribut- ribut? Tamu kita menjadi tidak enak. Mari ikut makan bersama kita.” ucap S.coups yang mencairkan suasana tegang ini.

Terima kasih hyung

Aku mengajak gadis itu, kulihat natanya sudah tidak berkaca-kaca lagi.

“ayo makan, hari ini kami memesan banyak makanan.”

“ah tidak-tidak,” gadis itu mengibas-ngibaskan tangannya. “aku ke sini untuk mengambil kartu pelajarku dan pulang.”

“tak apa-apa , anggap saja ini sebagai alasan karena sudah menjaga kartu mu dengan baik? ” aku benar-benar ingin makan dengannya. Sepertinya ia orang yang seru.

Gadis itu terlihat ragu dan berkata “baiklah” ia tersenyum manis.

Tuhan kenapa ia cantik sekali?
.
.
.
.
Lau pov

“Lau, makan ini yang banyak.”

“makan yang ini juga .”

“ini buatmu saja”

“ini..”

“ini…”

Oke, sekarang yang ada dimangkuk ku bukan lagi nasi, melainkan tumpukan makanan china yang menggunung terlihat lezat.

Astaga aku ingin makan semuanya. Tapi aku harus menjaga image ku di depan artis-artis ini.

“tidak usah repot-repot.” aku tersenyum tipis.

“ayo dimakan, kami suka jika cewek makannya banyak.” kata vernon yang sedang melahap tofu.

“jinjja? ” aku meyakinkan mereka, karena jika mereka berkata begitu, aku tidak usah menyembunyikan aib ku yang suka makan ini.

“hmm,makanlah ” mereka mengaggukan kepala mereka dan lanjut makan.

“baiklah, ” aku tersenyum lebar. ” jangan menyesal ya”  aku mulai memasukan makanan ke mulutku, memang dari tadi siang aku tidak sempat makan karena memikirkan pertemuanku dengan wonwoo.

“wuoh, enak sekali makanan ini .” aku menunjuk makanan yang tadi kumakan. Aku pun memakan lauk yang lain. Aku tidak berbohong, tapi memang makanan ini enak sekali.

Selama beberapa menit ketika aku makan, tidak ada suara sedikitpun dan aku pun tersadar bahwa semuanya sedang melihat aku.

Omo! Apa yang kulakukan.”

Aku meletakan sumpitku , walau masih lapar, aku harus memperbaiki imageku sekarang.

“mianhae, tadi siang aku tidak sempat makan karena …” aku menatap wonwoo yang juga sedang menatapku.

“wow daebak…” jeonghan bertepuk tangan.

“apa kau pernah mengikuti lomba makan?” tanya Dino tertarik.

“bagaimana kau bisa sekurus ini padahal makanmu banyak? ” Tanya Seungkwan.

“ne? ” aku memastikan apa yang kudengar.

“tenang saja , kau tidak usah menyembunyikan image mu di depan kami, kami orangnya terbuka kok.” ucap S.coups yang berhasil membuat senyumku kembali mengembang.

“te…terima kasih.” aku membungkukan badan.

“kau suka makanan apa noona?”

“kau kelas berapa noona?

“bagaimana noona bisa bertemu dengan wonwoo hyung?” tanya Dino dengan berbagai pertanyaan.

“hmmm aku seangkatan dengan vernon dan seungkwan, dan aku menyukai semua makanan, dan aku bertemu dengan hyung mu karena suatu insiden.” aku memberitahu Dino dengan berekspresi.  Sangat menyenangkan melihat mereka semua ingin mengetahui diriku.

“tunggu dulu, ” seungkwan memberhentikan ceritaku. “bagaimana kau mengetahui nama kami?, padahal kami masih belum berkenalan. ”

Aku tersenyum bangga,” aku fans kalian.”

Mereka semua kaget dan termasuk senang mendengarnya. Terlihat sekali dari ekspresi mereka.

” jadi.. Siapa kesukaanmu?”  Tanya Jun yang langsung membuatku salah tingkah.

“mmm… Aku suka semuanya.” yang langsung di tanggapi dengan ekspresi ‘tidak mungkin’

“beritahu aku saja noona.” Dino mendekatkan telinganya ke arah ku.

“jangan beritahu yang lain ya . ” aku memastikan.

“araseo” Dino mengangguk.

“wonwoo.” aku membisikan ke telinganya.

Dino berpura-pura memasang ekspresi sedih ketika mendengarnya.

“nugu?” tanya member yang lain dengan penasaran.

“bukan aku.” dino masih memasang muka sedih.

Aku yang melihatnya hanya bisa tertawa.

“habis ini kau mau ngapain?” tanya woozi yang sedari tadi hanya mendengarkan.

“hmm.. Aku akan pulang dan berfangirling ria di kamar.” aku menjawab asal.

“ya, kau sekarang sudah di depan artis kesukaan mu kenapa harus di kamar?” tanya vernon bingung .

Benar juga.

“aku takut mengganggu kalian di sini jadi…” omongan ku terputus dengan teriakan S.coups

“ayo kita main.” ajak S.coups

“main apa? ” aku bertanya.

“monopoli?” woozi memberi ide dan langsung di setujui oleh semuanya. Termasuk aku karena sudah lama aku tidak bermain itu.

Aku melihat ke arah wonwoo, ia sedang melihatku dengan tersenyum. Membuatku mengalihkan pandangan dan menundukan kepala.
.
.
.
.
Kulihat Dino sudah tertidur di tengah permainan monopoli ini.

“sepertinya Dino cepat tidur ya.” aku berkata sambil melihat Dino tertidur.

“tidak kok , jika tidak ada jadwal ia memang tidur paling awal.” kata woozi.

“memang nya sekarang jam berapa ?” tanya aku lagi .

“jam 10 malam.” kata Mingyu singkat .

“MWO?!” aku berteriak kaget . Yang benar saja aku menghabiskan waktu dengan mereka selama 5 jam.

Aku pun berdiri dan mengambil ransel ku . Dan berjalan ke depan pintu.

“kenapa sibuk sekali ?” tanya wonwoo bingung.

” aku lupa besok ada ulangan dan PR yang masih menungguku. ” aku menjawab sambil memakai sepatuku.

“noona boleh ku minta nomormu? ” tanya Dino.

“aku juga.” teriak yang lain.

“ya ambil saja.” ucapku yang masih sibuk memakai sepatu.

aku berdiri dan membungkukan badan. “terima kasih untuk hari ini. Aku merasa menjadi gadis paling beruntung di dunia hari ini.”

Jeonghan menggelengkan kepalanya.
” tidak , kau sekarang menjadi teman kami.” ucapnya sambil tersenyum.

Aku tersenyum dan membungkuk sekali lagi. “kamsahabnida , aku pulang .” Lalu membalik badan .

“tunggu,” suara berat itu membuat aku berhenti di tempat. “mari kuantar kau sampai ke depan.” katanya.

“tidak usah repot-repot.” aku menolaknya.
“tidak repot kok, ayo ” ia berjalan mendahuluiku.

Hari ini bagaikan mimpi